Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

40 Ribu UMKM Jadi Pemasok, Survei Adidaya Institute Catat MBG Jadi Pendorong Konsumsi Pemerintah

40 Ribu UMKM Jadi Pemasok, Survei Adidaya Institute Catat MBG Jadi Pendorong Konsumsi Pemerintah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga mulai memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi. Adidaya Institute menyebut MBG kini menjadi salah satu mesin pendorong konsumsi pemerintah.

Ekonom Adidaya Institute Bramastyo B Prastowo mengatakan, belanja barang untuk program MBG pada kuartal I 2026 telah mencapai Rp54,4 triliun. Angka tersebut menjadikan MBG sebagai salah satu komponen yang tumbuh paling cepat pada periode tersebut.

“Secara faktual, MBG saat ini jadi pendorong konsumsi pemerintah. MBG bahkan menjadi komponen yang tumbuh paling cepat pada kuartal I 2026,” ujar Bramastyo dalam konferensi pers di kantor Adidaya Institute, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Dampak ekonomi program tersebut juga terlihat dari keterlibatan pelaku usaha lokal. Berdasarkan riset Adidaya Institute, sekitar 40 ribu UMKM telah menjadi pemasok bahan pangan untuk program MBG.

Rata-rata sekitar tiga UMKM menjadi pemasok pada masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di setiap kabupaten dan kota di Indonesia.

Keterlibatan pelaku usaha lokal juga sejalan dengan aspirasi masyarakat. Survei terbaru Adidaya Institute menunjukkan 78,8 persen responden menginginkan pelaku usaha lokal dan UMKM dilibatkan dalam penyediaan program MBG.

“Merujuk survei, mayoritas publik memang ingin bahan pangan MBG dibeli dari petani, nelayan, peternak dan UMKM setempat,” ungkap Bramastyo.

Selain menciptakan permintaan bagi pelaku usaha lokal, program MBG disebut telah membuka sekitar 987 ribu lapangan kerja langsung di dapur SPPG. Sekitar 99 persen pekerja tersebut merupakan warga yang berada di sekitar SPPG.

“Manfaat ekonomi paling nyata program MBG, pemasok bahan pangan merupakan pelaku usaha lokal dan UMKM. Lapangan pekerjaan terbuka bagi masyarakat di sekitar dapur SPPG,” tutur Bram.

Temuan mengenai dampak ekonomi tersebut sejalan dengan tingkat dukungan publik terhadap keberlanjutan program MBG. Survei nasional terbaru Adidaya Institute mencatat 61,6 persen responden menginginkan program tersebut tetap dilanjutkan.

Selain itu, sebanyak 66,5 persen responden menilai MBG telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif Adidaya Institute Rahman Toha Budiarto mengatakan tingkat dukungan tersebut menunjukkan penerimaan publik terhadap program MBG cukup kuat.

“Dukungan publik terhadap (program) MBG ini terbukti sangat kuat. Sekitar 6 dari 10 warga ingin program MBG dilanjutkan dan 2 dari 3 orang warga merasa program ini bermanfaat,” kata Rahman.

Survei tersebut juga mencatat 69,9 persen responden menyatakan setuju terhadap program MBG. Sementara 58,2 persen menilai pelaksanaan program tersebut telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Uji Coba MBG Ala Jepang Mulai Diterapkan, Hasilnya Bikin Sisa Makanan Nyaris Tak Terbuang

Dari sisi dampak terhadap keluarga, sebanyak 63,0 persen responden mengakui adanya dampak langsung MBG bagi keluarga. Sebanyak 63,4 persen responden juga meyakini dampak tersebut bermanfaat bagi perbaikan gizi.

“Itu artinya sebagian besar masyarakat menilai program MBG sesuai dengan kebutuhan publik dan berdampak baik pada kesehatan serta peningkatan gizi,” jelas Rahman.

Survei Adidaya Institute dilakukan secara tatap muka pada 15-21 September 2026 di 38 provinsi. Penelitian tersebut melibatkan 1.240 responden dengan margin of error 2,78 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat