Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Ketergantungan industri Indonesia terhadap bahan baku impor masih menjadi persoalan dalam upaya memperkuat industrialisasi. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat sekitar 70 persen bahan baku industri nasional masih berasal dari luar negeri.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan persoalan tersebut membuat penguatan industri tidak cukup hanya mengandalkan hilirisasi. Menurut dia, Indonesia juga perlu membangun industri hulu agar rantai pasok di dalam negeri semakin kuat.
“70 persen raw materials (bahan baku) masih diimpor,” kata Shinta dalam diskusi mengenai transformasi ekonomi Indonesia di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Menurut Shinta, persoalan pasokan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri. Dunia usaha masih menghadapi masalah terkait ketersediaan dan keterjangkauan bahan baku, termasuk tarif serta biaya logistik.
Selain persoalan pasokan, industri juga menghadapi tekanan dari sisi permintaan. Kondisi permintaan global maupun domestik yang melemah turut memengaruhi aktivitas dunia usaha.
Shinta menilai agenda industrialisasi perlu melihat rantai pasok secara lebih utuh. Penguatan industri hilir harus dibarengi dengan pembangunan industri yang mampu memasok bahan baku di dalam negeri.
“Industrialisasi itu tidak hanya downstreaming, tetapi juga harus ada upstream industry,” ujarnya.
Menurut dia, penguatan industri hulu juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri sekaligus memperkuat keterkaitan antarindustri di dalam negeri.
Di sisi lain, Shinta menyoroti perubahan karakter investasi yang masuk ke Indonesia. Investasi semakin bergeser dari industri padat karya menuju industri padat modal, seiring penggunaan otomatisasi dan teknologi dalam proses produksi.
Baca Juga: Apindo Bongkar Biang Daya Beli Melemah: Kelas Menengah Makin Tertekan
Baca Juga: APINDO Minta RUU Ketenagakerjaan Buka 2 Juta Kerja Formal per Tahun
Baca Juga: PKWT dan Outsource Diperketat, Apindo Ungkap Risiko ke Pekerja
Perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena peningkatan investasi tidak selalu berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja.
Karena itu, menurut Shinta, strategi industrialisasi perlu sekaligus memperhatikan kebutuhan tenaga kerja, keterampilan, dan perkembangan teknologi.
Dia juga mendorong pemetaan kebutuhan talenta untuk industri masa depan, termasuk sektor semikonduktor dan energi terbarukan. Pendidikan vokasi serta peningkatan literasi digital dinilai perlu disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Menurut Shinta, agenda industrialisasi pada akhirnya perlu melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan sektor terkait agar pembangunan kapasitas industri tidak berhenti pada sisi hilir saja.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: