Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

CBAM Eropa Mengintai Ekspor RI, Inalum Klaim Aluminium Sudah Hijau

CBAM Eropa Mengintai Ekspor RI, Inalum Klaim Aluminium Sudah Hijau Kredit Foto: INALUM
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penerapan aturan karbon Uni Eropa atau Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) mulai menjadi perhatian industri ekspor Indonesia. Mulai Februari 2027, produk manufaktur yang masuk ke pasar Eropa akan diminta mencantumkan informasi penggunaan energi dan jejak karbon dalam proses produksinya.

Di tengah ancaman tersebut, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengklaim produk aluminium perseroan telah memenuhi standar rendah emisi sehingga memiliki peluang tetap bersaing di pasar global.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum Arif Haendra mengatakan tingkat emisi karbon aluminium yang diproduksi perusahaan berada di bawah batas kategori aluminium hijau.

"Jadi Inalum adalah produsen aluminium green di Indonesia hari ini. Jadi dianggap green itu kalau emisi karbon di bawah 4 ton CO2 per ton aluminium. Inalum itu 2,8 sampai 2,9," ujar Arif kepada Warta Ekonomi, Kamis (8/10/2026).

Menurut Arif, capaian tersebut menjadi salah satu keunggulan Inalum dalam menghadapi perubahan standar perdagangan global yang semakin memperhitungkan aspek lingkungan.

Selain tingkat emisi yang rendah, Inalum juga telah menerbitkan sertifikat hijau untuk produk aluminium yang dipasarkan.

"Kemarin di Fastmarkets di Budapest kita meluncurkan sertifikat green. Kita meluncurkan green certificate yang itu diterima sangat baik oleh market. Sehingga kita sekarang setiap mengirimkan produk itu disertai green certificate," katanya. Teks yang ditempel (1)

Arif mengatakan Inalum akan terus mempertahankan status aluminium hijau tersebut melalui pemanfaatan energi terbarukan. Selain mengandalkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kuala Tanjung, perusahaan juga menjajaki penggunaan energi hijau melalui kerja sama dengan PLN.

"Kita akan tetap mempertahankan status green ini dengan sumber-sumber energi terbarukan lainnya selain PLTA. Kita akan memanfaatkan apa? Kalau kita akan menggunakan jaringan PLN, kita akan menggunakan REC dari PLN," ujar Arif. Teks yang ditempel (1)

Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Andre Simangunsong sebelumnya mengingatkan penerapan CBAM berpotensi memberikan tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia apabila industri dalam negeri belum mampu memenuhi persyaratan karbon yang ditetapkan pasar Eropa.

Andre menyebut nilai ekspor nasional sekitar US$2,3 miliar atau setara Rp41 triliun berpotensi terdampak akibat penerapan sertifikasi emisi karbon melalui skema CBAM.

Baca Juga: Inalum Buka Suara soal Rencana Akuisisi Tambang Bauksit Antam

Baca Juga: Tancapkan Kuku di Pasar Global, Inalum Perkenalkan Low Carbon Aluminium

"Nilainya itu sekitar 2,3 miliar USD, jadi lumayan signifikan Bapak Ibu semua. Produk besi dan manufaktur kita yang masuk ke Uni Eropa mulai Februari 2027 akan ditanyakan berapa penggunaan listrik dan neraca energinya. Jika industri domestik belum bisa menghitung emisi karbonnya, pasar ekspor kita otomatis hilang dan beralih ke negara kompetitor seperti Vietnam, Thailand, atau India," kata Andre di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Andre menjelaskan, CBAM merupakan mekanisme penyesuaian karbon lintas batas yang diterapkan Uni Eropa dengan mengenakan biaya tambahan terhadap produk impor berdasarkan emisi karbon yang terkandung dalam proses produksinya.

Ia menambahkan, porsi komoditas nasional yang masuk dalam skema CBAM terus meningkat. Pada 2025, komoditas terdampak diperkirakan mencapai 12% dari total ekspor nasional, meningkat dibandingkan periode sebelum penerapan CBAM yang masih berada di bawah 5%.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra