Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di pasar spot dibuka menguat pagi ini. Mengutip data Bloomberg, Jumat (9/10/2026), rupiah spot menguat di level Rp 17.898 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp17.890 sampai Rp17.940 per dolar AS.
"Sedangkan perdagangan dalam pekan ini rupiah berada di rentang Rp17.750-Rp18.050," kata Ibrahim kepada wartawan.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pergerakan rupiah terjadi pada saat Indek Keyakinan Konsumen Indonesia tetap berada di zona optimistis. Namun pada September, optimisme tersebut sedikit memudar.
IKK September tercatat 118,1 sedikit memudar dibandingkan data pada bulan Agustus sebesar 118,5. IKK di atas 100 menandakan konsumen optimistis memandang perekonomian saat ini hingga 6 bulan mendatang.
"Faktor yang membuat IKK terpeleset adalah Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) berada di 107,5. Lebih rendah dibandingkan Agustus yang sebesar 109,4. Artinya, konsumen memandang prospek perekonomian saat ini lebih suram dibandingkan saat memandang bulan sebelumnya," kata dia kepada wartawan.
Namun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat naik dari 127,6 pada Agustus menjadi 128,7 pada September. Ini berarti konsumen melihat prospek ekonomi hingga 6 bulan ke depan lebih cerah.
Selain itu, pemerintah memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Agustus 2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Realisasi pendapatan negara tercatat baru 65,2% dari total target APBN yang sebesar Rp3.153 triliun, sementara realisasi belanja negara tercatat Rp2.295,7 triliun atau 59,7% dari target belanja yang mencapai Rp3.842 triliun.
Angka tersebut menurut para ekonom harus dibaca bersama dengan pos penerimaan yang masih berpotensi berubah, terutama restitusi. Kalau hanya melihat persentase realisasi, posisi APBN bisa terlihat lebih longgar daripada kondisi sebenarnya.
Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp17.915 per Dolar AS di Tengah Penurunan IKK September
Baca Juga: Rupiah Buka Menguat ke Rp17.871, Tapi Diproyeksi Ditutup Melemah Hari Ini!
Kualitas penerimaan di balik angka tersebut harus dilperhatikan dengan restitusi pajak yang belum dibayarkan dan berpotensi membuat penerimaan bersih untuk sementara terlihat lebih tinggi, meskipun negara sebenarnya memiliki kewajiban pengembalian kepada wajib pajak.
Ketika restitusi dicairkan pada kuartal IV, terutama bersamaan dengan meningkatnya pengembalian PPN eksportir dan penyelesaian kewajiban pajak badan, penerimaan bersih dapat turun dan defisit melebar tanpa ada tambahan belanja baru.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: