Nama Dikaitkan dengan Pertemuan Jelang Muktamar NU, Dua Kiai Kalbar Sampaikan Klarifikasi
Kredit Foto: Unsplash/Mufid Majnun
Dua tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Kalimantan Barat menyampaikan klarifikasi tertulis terkait informasi yang mengaitkan nama mereka dengan kegiatan Halaqoh Kebangsaan dan Silaturrahmi Alumni IKAPETE di Gedung MPR RI serta pertemuan di Hotel Royal Kuningan pada 8 Agustus 2026.
Kedua tokoh tersebut adalah KH Muhammad Isma'il Ghofur, Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Barat, dan H. Nazril Hijar, S.Ag., M.Pd., Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Kayong Utara.
Dalam surat pernyataan tertanggal 8 Oktober 2026, KH Muhammad Isma'il Ghofur menegaskan bahwa dirinya tidak menghadiri kegiatan Halaqoh Kebangsaan dan Silaturrahmi Alumni IKAPETE. Ia menyatakan tidak ikut melalui rombongan penerbangan Lion Air nomor IU 691 maupun berangkat secara mandiri.
Klarifikasi tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi di sejumlah media yang mencantumkan namanya seolah-olah menghadiri kegiatan tersebut.
Sementara itu, H. Nazril Hijar melalui surat pernyataan tertanggal 9 Oktober 2026 juga menegaskan bahwa dirinya tidak menghadiri kegiatan di Gedung MPR RI maupun pertemuan di Hotel Royal Kuningan pada 8 Agustus 2026.
Nazril menjelaskan bahwa pada tanggal tersebut dirinya berada di Kabupaten Kayong Utara untuk mengikuti penutupan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-34 Provinsi Kalimantan Barat.
Ia juga menerangkan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan Muktamar NU berlangsung pada 27–31 Agustus 2026, sesuai jadwal yang ditetapkan panitia di arena Muktamar.
Di luar rangkaian kegiatan tersebut, Nazril menyatakan tidak mengikuti agenda lain ataupun menghadiri pertemuan di hotel mana pun.
Baca Juga: PCNU Sekadau Laporkan Dugaan Politik Uang, Minta KPK Telusuri Aliran Dana Muktamar NU
Klarifikasi kedua tokoh tersebut muncul di tengah dinamika organisasi menjelang dan selama pelaksanaan Muktamar NU. Informasi mengenai kehadiran tokoh-tokoh organisasi dalam sejumlah pertemuan menjadi perhatian karena berkaitan dengan proses dan mekanisme pengambilan keputusan di lingkungan NU.
Bagi warga Nahdliyin, penghormatan terhadap marwah organisasi menjadi salah satu hal penting dalam menjaga kepercayaan terhadap proses organisasi. Musyawarah, transparansi, dan kepatuhan terhadap mekanisme yang berlaku juga menjadi bagian dari upaya menjaga kehormatan NU.
Meski demikian, klarifikasi mengenai ketidakhadiran kedua tokoh tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan tujuan maupun agenda pertemuan yang dimaksud. Informasi terkait hal itu tetap perlu dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang terlibat agar pemberitaan dapat disajikan secara utuh dan berimbang.
Melalui pernyataan tertulisnya, KH Isma'il Ghofur dan Nazril Hijar meluruskan informasi mengenai kehadiran mereka dalam kegiatan pada 8 Agustus 2026. Klarifikasi tersebut diharapkan dapat mencegah kesimpangsiuran informasi di tengah warga Nahdliyin.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: