Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Penggenangan Bendungan Dimulai, PLTA Batang Toru Siap Perkuat Listrik Sumatera

Penggenangan Bendungan Dimulai, PLTA Batang Toru Siap Perkuat Listrik Sumatera Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Tapanuli Selatan -

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 Mega Watt (MW) terus menunjukkan progres signifikan. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung meresmikan proses penggenangan bendungan (dam) di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tahapan ini menjadi bagian penting sebelum pembangkit memasuki tahap pengujian hingga pengoperasian secara komersial (Commercial Operation Date/COD).

Sebagaimana diketahui, PLTA Batang Toru merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikembangkan oleh Independent Power Producer (IPP) asal Tiongkok, yakni PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE).

”Pada hari ini kita melakukan penggenangan. Jadi tanpa penggenangan ini kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini. Alhamdulillah dengan adanya penggenangan ini tahapan selanjutnya, kita sesuai dengan timeline, ini nanti pada akhir Oktober, ini diharapkan seluruh kegiatan yang terkait dengan penggenangan itu bisa diselesaikan,” ungkap Yuliot di Tapanuli Selatan, Jumat (9/10/2026). 

Bendungan PLTA Batang Toru memiliki beberapa elevasi penting, yaitu Muka Air Banjir Rencana (Flood Water Level/FWL) pada EL +434,50 meter di atas permukaan laut (mdpl), Muka Air Tinggi Operasi (High Water Level/HWL) pada EL +432,50 mdpl, serta Muka Air Rendah Operasi (Low Water Level/LWL) pada EL +427,50 mdpl.

Pada elevasi muka air tinggi operasi (HWL), bendungan memiliki kapasitas tampungan sebesar 17,88 juta meter kubik (m³), dengan volume tampungan efektif untuk kebutuhan operasi harian mencapai 4,54 juta m³. Kapasitas tersebut dirancang untuk mendukung operasi beban puncak hingga sekitar enam jam per hari dengan tambahan faktor keamanan sebesar 15 persen.

Fasilitas PLTA Batang Toru tersebar di tiga kecamatan. Bendungan (dam) berada di Kecamatan Sipirok, terowongan air (waterway tunnel) berada di Kecamatan Marancar, sementara fasilitas pendukung rumah pembangkit (power house) berada di Kecamatan Batang Toru.

Yuliot mengatakan, proses pengisian bendungan ditargetkan selesai pada akhir Oktober. Setelah itu, seluruh fasilitas pembangkit akan memasuki tahap uji coba yang ditargetkan rampung pada 15 November 2026.

”Target operasi tadi, kalau 15 November itu sudah bisa teruji semua (kemudian lanjut) masuk ke grid PLN, jadi selanjutnya 15 sampai seterusnya itu sudah bisa dioperasikan (akhir 2026). Jadi, dari Kementerian ESDM tinggal memastikan, jadi bisa berjalan baik, kalau sudah berjalan dengan baik kita akan menerbitkan sertifikat layak (laik) operasi,” ujar Yuliot.

Sejalan dengan proses uji coba tersebut, Yuliot mengajak seluruh stakeholder untuk bersama-sama mengawal keberhasilan pembangunan PLTA Batang Toru. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan harmonisasi lintas kementerian dan lembaga.

Dari sisi ketersediaan listrik, khususnya untuk wilayah Sumatera, Yuliot menyebut kondisi sistem kelistrikan saat ini masih berada dalam kondisi terbatas. Berdasarkan perhitungan, daya mampu pembangkit di Sumatera berada pada kisaran 2.551 MW, sementara beban puncak listrik telah mencapai 2.446 MW. Dengan demikian, cadangan daya yang tersedia hanya sekitar 105 MW atau sekitar 4 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut masih berada di bawah tingkat ideal, di mana cadangan daya seharusnya berada pada kisaran 15 hingga 20 persen. Terbatasnya cadangan daya membuat sistem kelistrikan Sumatera masih membutuhkan dukungan pasokan antarwilayah, terutama untuk wilayah Sumatera bagian utara.

Sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Riau masih mengalami keterbatasan pasokan, sehingga kebutuhan listrik perlu didukung melalui sistem transmisi dari wilayah Sumatera bagian selatan menuju Sumatera bagian utara untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan.

Oleh sebab itu, pemerintah berharap pengoperasian secara komersial (COD) PLTA Batang Toru dapat dilakukan paling lambat akhir Desember. Kehadiran pembangkit energi hijau tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi listrik di Sumatera bagian utara, terutama dalam menghadapi peningkatan kebutuhan listrik pada periode Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru).

”Jadi, antisipasi untuk kebutuhan meningkat. Jadi, juga keandalan sistem kelistrikan Sumatera, jadi seluruh potensi bagaimana ini pembangkit-pembangkit yang ada itu bisa kita selesaikan sehingga keandalan sistem listrik nasional bisa diupayakan,” sambungnya.

Hal ini juga selaras dengan komitmen pemerintah dalam mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadirkan ketahanan energi di seluruh Indonesia.

”Dan dalam hal ini kan dari Kementerian Investasi hadir, dari Kementerian Lingkungan Hidup hadir, kemudian dari Kementerian Kehutanan hadir. Ini dikawal bersama-sama dari Kejaksaan Agung. Jadi, dengan adanya pengawalan, permasalahan kawasan hutan segala macam itu bisa diselesaikan dengan pengawalan dari Kejaksaan Agung,” tegas Yuliot.

Baca Juga: Berkapasitas 510 MW, PLTA Batangtoru Didesain Responsif Hadapi Gangguan Jaringan dan Kebutuhan Listrik di Sumatera

Baca Juga: El Nino Tekan Produksi PLTA, PLN Perbaiki Tata Kelola Hadapi Susut 650 MW

Senada, Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Edwin mengatakan bahwa masuknya PLTA Batang Toru ke dalam sistem kelistrikan sangat dibutuhkan, khususnya untuk memperkuat sistem Sumatera bagian utara yang saat ini masih memperoleh dukungan pasokan dari wilayah Sumatera bagian selatan melalui jaringan transmisi.

Ia menjelaskan, lima menara transmisi yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat banjir hidrometeorologi telah selesai diperbaiki. Namun, tambahan pembangkit baru tetap diperlukan seiring meningkatnya kebutuhan listrik di Sumatera.

Menurutnya, tambahan daya sebesar 510 MW dari PLTA Batang Toru akan memberikan kontribusi besar terhadap kebutuhan listrik di Sumatera Utara. Pertumbuhan kebutuhan listrik lokal di Sumatera Utara saat ini berada pada kisaran 100 hingga 120 MW, sehingga kehadiran pembangkit tersebut dapat menopang pertumbuhan beban listrik daerah dalam beberapa tahun ke depan.

Terkait dengan perjanjian jual beli listrik antara NSHE dan PLN, Edwin Nugraha Putra mengatakan proses tersebut telah dilakukan.

”Sudah proses, sudah. Makanya siap untuk dimasukkan,” tutupnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra