Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Di Balik PLTA Batang Toru, Tumbuh Penghidupan Warga dan Harapan Energi Sumatera

Di Balik PLTA Batang Toru, Tumbuh Penghidupan Warga dan Harapan Energi Sumatera Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Tapanuli Selatan -

"Saya dulu belum ada kebun, sekarang alhamdulillah ada kebun.”

Bagi Sanjani Ritonga, 36 tahun, kalimat itu merangkum perubahan yang ia rasakan sejak terlibat dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebelum bekerja di proyek tersebut, ia belum memiliki kebun. Penghasilan dari pekerjaannya kemudian membantunya membangun rumah dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Sanjani telah terlibat sejak tahap awal pembangunan, ketika aktivitas di kawasan tersebut masih berfokus pada pengeboran, pengambilan sampel tanah, dan persiapan lahan. Sekitar 2014–2015, ia mulai mengenal proyek yang kemudian berkembang menjadi salah satu infrastruktur energi berskala besar di Sumatera Utara.

Kini, Sanjani bekerja sebagai resepsionis. Perjalanannya memperlihatkan sisi pembangunan yang kerap luput dari perhatian: sebelum sebuah pembangkit menghasilkan listrik, proyek itu lebih dahulu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan, pengalaman, dan keterampilan baru.

“Alhamdulillah masyarakat Marancar dengan adanya PLTA ini, kita termasuk ekonominya alhamdulillah meningkatlah,” tutur Sanjani saat ditemui di kantor PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Jumat (9/10/2026).

Bagi Sanjani, perubahan ekonomi itu bukan sekadar angka dalam laporan investasi. Ia mengukurnya melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari rumah yang bisa dibangun hingga kebun yang kini bisa dimiliki. Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana kesempatan kerja dalam pembangunan infrastruktur dapat membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.

Pengalaman serupa dirasakan Haidir Fitri Nainggolan, 37 tahun. Sebelum bekerja di proyek PLTA Batang Toru pada 2018, ia mengandalkan pekerjaan sebagai petani. Bergabung dengan proyek tersebut memberinya sumber penghasilan lain di luar kegiatan berkebun.

“Oh, kalau sebelum kerja di sini, Bang, aku berkebun, petani. Terus aku kerja di sini alhamdulillah agak senang lagi gitu lah, Bang,” tutur Haidir, petugas Satuan Pengamanan (Satpam) PT NSHE.

Haidir memperkirakan hampir 3.000 pekerja dari daerah setempat terlibat dalam proyek tersebut. Menurutnya, kesempatan kerja menjadi salah satu manfaat yang dirasakan masyarakat sejak pembangunan PLTA berlangsung.

Manfaat itu tidak hanya berkaitan dengan penghasilan. Selama bekerja, Sanjani mengaku memperoleh pelatihan keselamatan kerja, pengetahuan mengenai aktivitas di kawasan hutan, hingga keterampilan menerima dan melayani tamu. Sebagian pekerja dengan kemampuan tertentu juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di Medan dan Jakarta.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa proyek energi dapat membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memperoleh pengalaman kerja. Dengan demikian, dampak pembangunan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur yang sedang dibangun, tetapi juga dengan kesempatan ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Namun, bagi masyarakat di sekitar Batang Toru, harapan terhadap pembangkit ini tidak berhenti pada kesempatan kerja. Mereka juga menantikan manfaat yang lebih luas, yakni pasokan listrik yang lebih andal.

Haidir mengatakan pemadaman listrik masih sesekali terjadi di wilayahnya. Karena itu, ia berharap beroperasinya PLTA Batang Toru kelak dapat membantu meningkatkan keandalan pasokan listrik.

Baca Juga: Kemarau Tekan Produksi PLTA, PLN Tambah Pembangkit 50 MW di Sigi

Baca Juga: Dukung Proyek PLTA Upper Cisokan, PLN Percepat Penyelesaian Tanah Kas Desa

Harapan tersebut berkaitan dengan kebutuhan yang lebih besar di tingkat regional. Di Sumatera Bagian Utara, tambahan pembangkit diperlukan untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan listrik dan memperkuat cadangan daya. Di sinilah manfaat yang diharapkan masyarakat bertemu dengan kebutuhan sistem kelistrikan yang harus dipenuhi.

Menjawab Kebutuhan Energi Sumatera

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, melihat keterlibatan masyarakat lokal dan pemenuhan kebutuhan energi sebagai dua aspek penting dalam pembangunan PLTA Batang Toru. Menurutnya, proyek tersebut melibatkan tenaga kerja lokal serta memanfaatkan peralatan dari dalam negeri sepanjang kebutuhan proyek dapat dipenuhi oleh produk domestik.

“Nah, kalau untuk serapan tenaga lokal, pada umumnya yang bekerja di sini tenaga lokal. Yang itu yang pertama. Untuk sebagian peralatan, mana yang bisa dimanfaatkan dari dalam negeri, itu dimanfaatkan dari dalam negeri,” tutur Yuliot di Tapanuli Selatan, Jumat (9/10/2026).

Di sisi ketenagalistrikan, urgensi pembangunan PLTA Batang Toru terlihat dari kondisi sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut). Yuliot menyebut daya mampu pembangkit di wilayah tersebut mencapai sekitar 2.551 megawatt (MW), sedangkan beban puncaknya telah mencapai 2.446 MW.

Selisih kedua angka tersebut hanya 105 MW. Dengan demikian, cadangan daya berada di kisaran 4% dari daya mampu pembangkit, jauh di bawah kondisi ideal sebesar 15%–20% yang disampaikan Yuliot.

“Kalau kita lihat kemampuan untuk pembangkit-pembangkit ini, daya mampunya sekitar 2.551 MW, sementara beban puncak kita sudah 2.446 MW, berarti cadangan daya kita adalah 105 MW,” paparnya.

Keterbatasan cadangan daya tersebut membuat sistem kelistrikan Sumbagut membutuhkan tambahan pasokan untuk menjaga keseimbangan antara kemampuan pembangkit dan permintaan listrik. Selama ini, sejumlah kebutuhan daya di wilayah utara juga memperoleh dukungan dari Sumatera Bagian Selatan melalui jaringan transmisi.

Dalam kondisi tersebut, PLTA Batang Toru dirancang memiliki kapasitas 510 MW. Tambahan kapasitas ini diharapkan memperkuat pasokan listrik di Sumatera Utara sekaligus membantu memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang.

Besarnya kapasitas pembangkit tersebut ditunjang oleh rancangan bendungan dan fasilitas pendukung yang menjadi bagian dari sistem PLTA Batang Toru. Bendungan ini memiliki sejumlah elevasi penting untuk mendukung pengaturan muka air dan kebutuhan operasional pembangkit.

Muka Air Banjir Rencana (Flood Water Level/FWL) berada pada elevasi EL +434,50 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara itu, Muka Air Tinggi Operasi (High Water Level/HWL) berada pada EL +432,50 mdpl dan Muka Air Rendah Operasi (Low Water Level/LWL) pada EL +427,50 mdpl.

Pada elevasi Muka Air Tinggi Operasi (HWL), bendungan memiliki kapasitas tampungan sebesar 17,88 juta meter kubik (m³). Dari jumlah tersebut, volume tampungan efektif untuk kebutuhan operasi harian mencapai 4,54 juta m³.

Kapasitas tampungan efektif tersebut dirancang untuk mendukung operasi beban puncak hingga sekitar enam jam per hari, dengan tambahan faktor keamanan sebesar 15%.

Adapun fasilitas PLTA Batang Toru tersebar di tiga kecamatan. Bendungan (dam) berada di Kecamatan Sipirok, terowongan air (waterway tunnel) berada di Kecamatan Marancar, sedangkan rumah pembangkit (power house) berada di Kecamatan Batang Toru.

Sebaran fasilitas tersebut menjadi bagian dari infrastruktur yang mendukung pemanfaatan energi air menjadi listrik. Dengan kapasitas yang direncanakan mencapai 510 MW, PLTA Batang Toru diharapkan dapat memberikan tambahan daya bagi sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara.

Meski demikian, kapasitas tersebut belum dapat dihitung sebagai tambahan pasokan yang sudah tersedia. PLTA Batang Toru semula ditargetkan beroperasi pada Oktober 2025. Namun, menurut Yuliot, bencana hidrometeorologi pada November 2025 mengganggu sejumlah fasilitas yang telah disiapkan, termasuk jaringan transmisi.

Baca Juga: Penggenangan Bendungan Dimulai, PLTA Batang Toru Siap Perkuat Listrik Sumatera

Yuliot menjelaskan bahwa proyek tersebut memasuki tahap penggenangan bendungan dan pengujian fasilitas. Tahapan ini diperlukan untuk memastikan seluruh komponen pembangkit berfungsi dengan baik sebelum terhubung ke jaringan PLN.

“Untuk pengoperasian ini, karena di PLTA harus dilakukan penggenangan terlebih dahulu. Jadi baru dilakukan pengujian atas fasilitas-fasilitas, apakah seluruh fasilitas tersebut berfungsi dengan baik,” jelas Yuliot.

Ia menargetkan seluruh pengujian dapat diselesaikan sesuai jadwal sehingga PLTA Batang Toru dapat masuk ke jaringan PLN pada 15 November 2026.

“Kalau 15 November itu sudah bisa teruji semua, masuk ke grid PLN, jadi selanjutnya 15 sampai seterusnya itu sudah bisa dioperasikan,” lanjutnya.

Artinya, penyelesaian konstruksi bukan satu-satunya tahapan yang menentukan kontribusi PLTA Batang Toru terhadap pasokan listrik. Pembangkit tersebut juga harus melewati pengujian teknis dan memastikan kesiapan fasilitas sebelum dapat menyumbangkan daya ke sistem kelistrikan.

PLN Menanti Tambahan Daya

Bagi PT PLN (Persero), masuknya PLTA Batang Toru ke dalam sistem kelistrikan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat pasokan di Sumatera Bagian Utara.

Direktur Teknologi, Teknik, dan Keberlanjutan PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan wilayah tersebut masih memperoleh dukungan daya dari pembangkit di Sumatera Bagian Selatan melalui jaringan transmisi.

“Memang diperlukan sekali pembangkit ini untuk masuk ke dalam sistem. Terutama di sistem Sumatera bagian utara, karena sekarang ditopang jauh dari Sumatera bagian selatan dengan transmisi,” tutur Edwin.

Menurut Edwin, kebutuhan tambahan pembangkit perlu dilihat seiring dengan pertumbuhan permintaan listrik. Ia menyebut pertumbuhan beban di Sumatera Utara berada pada kisaran 100–120 MW per tahun. Dengan kapasitas yang direncanakan mencapai 510 MW, PLTA Batang Toru berpotensi memberikan dukungan terhadap pertumbuhan kebutuhan listrik regional selama beberapa tahun.

Namun, kebutuhan sistem Sumatera secara keseluruhan berkembang lebih cepat. Edwin menyebut pertumbuhan kebutuhan daya dari 2025 hingga 2026 telah mencapai sekitar 490 MW.

“Kalau kita pertimbangkan sistem Sumatera, yang 500 ini bahkan hanya untuk 1 tahun. Karena dari tahun 2025 sampai 2026 itu, hari ini sudah tumbuh sekitar 490,” jelasnya.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya tantangan dalam menjaga kecukupan daya. Kapasitas PLTA Batang Toru yang mencapai 510 MW mendekati pertumbuhan kebutuhan daya sistem Sumatera selama setahun menurut perhitungan Edwin.

Karena itu, tambahan pembangkit ini menjadi bagian penting dalam perencanaan pasokan listrik. Meski demikian, kontribusi aktualnya tetap bergantung pada penyelesaian pengujian, kesiapan fasilitas, dan integrasi ke jaringan.

PLN juga menyatakan proses Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) telah berjalan sebagai bagian dari persiapan integrasi pembangkit.

“Sudah proses, sudah. Makanya siap untuk dimasukkan,” ucap Edwin.

Baca Juga: Kemarau Tekan Produksi PLTA, PLN Tambah Pembangkit 50 MW di Sigi

Bagi PLN, kehadiran pembangkit baru merupakan bagian dari upaya menyesuaikan kapasitas pasokan dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat. Bagi masyarakat, upaya tersebut diharapkan dapat mendukung layanan listrik yang lebih andal untuk menunjang kegiatan rumah tangga, usaha, dan aktivitas ekonomi.

NSHE Melanjutkan Pembangunan

Di sisi pengembangan proyek, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) menyatakan akan melanjutkan pembangunan PLTA Batang Toru dengan mengikuti arahan dan persyaratan pengawasan dari pemerintah.

Presiden Direktur NSHE Ye Ling menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dan berbagai instansi yang mengawal pembangunan proyek tersebut. Ia menyebut dukungan lintas lembaga menjadi bagian dari proses penyelesaian tahapan pembangunan.

“Ke depannya, kami akan sepenuhnya mengikuti persyaratan pengawasan dan arahan kerja dari seluruh instansi berwenang, serta terus mendorong progres pembangunan proyek selanjutnya secara penuh,” ujar Ye Ling.

Ye Ling berharap PLTA Batang Toru dapat membantu memenuhi kebutuhan energi wilayah sekaligus mendukung pembangunan ekonomi daerah. Dengan demikian, manfaat yang diharapkan dari proyek ini tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur ketenagalistrikan, tetapi juga dengan kegiatan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

“Kami akan aktif berkontribusi dalam pemenuhan pasokan energi wilayah dan pembangunan ekonomi daerah guna tidak mengecewakan kepercayaan serta dukungan dari seluruh pimpinan,” tegasnya.

Bagi masyarakat sekitar, perubahan ekonomi melalui kesempatan kerja dan penghasilan telah menjadi bagian dari pengalaman selama pembangunan PLTA Batang Toru berlangsung. Sanjani merasakan perubahan itu melalui rumah dan kebun yang kini dimilikinya, sementara Haidir memperoleh sumber penghidupan di luar pekerjaan sebagai petani.

Bagi Sumatera, manfaat yang berbeda masih dinantikan. Tambahan kapasitas 510 MW diharapkan membantu memperkuat pasokan listrik, tetapi kontribusinya baru dapat diwujudkan setelah seluruh tahapan pengujian dan integrasi pembangkit selesai.

Di antara dua kepentingan itu, pembangunan PLTA Batang Toru membawa harapan yang saling berkaitan. Masyarakat membutuhkan kesempatan ekonomi yang dapat meningkatkan kualitas hidup, sementara sistem kelistrikan membutuhkan pasokan yang mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan energi. Keduanya menjadi ukuran penting bagi manfaat yang kelak dihasilkan proyek ini.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra