Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Berkapasitas 510 MW, PLTA Batangtoru Didesain Responsif Hadapi Gangguan Jaringan dan Kebutuhan Listrik di Sumatera

Berkapasitas 510 MW, PLTA Batangtoru Didesain Responsif Hadapi Gangguan Jaringan dan Kebutuhan Listrik di Sumatera Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengembangan energi baru terbarukan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang berkembang sekaligus memperkuat ketahanan sistem energi. Salah satunya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Sumatera Utara yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (PT NSHE).

PLTA Batangtoru memiliki empat unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing 127,5 megawatt (MW), sehingga total kapasitasnya mencapai 510 MW. Pembangkit ini memanfaatkan potensi Sungai Batangtoru dan dikembangkan sebagai bagian dari sistem kelistrikan Sumatra.

Selain memasok listrik, PLTA Batangtoru dirancang memiliki fleksibilitas untuk merespons kebutuhan sistem. Pembangkit menggunakan sistem peaker-follower dengan skema daily pondage atau waduk harian sehingga produksi listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Kemampuan ramping rate yang relatif tinggi memungkinkan peningkatan pasokan dalam waktu relatif cepat, terutama ketika kebutuhan listrik meningkat atau terjadi gangguan jaringan. Pembangkit ini juga dirancang memiliki kemampuan black start, sehingga dapat membantu pemulihan sistem kelistrikan tanpa bergantung pada pasokan listrik dari luar.

Direktur Teknik PT NSHE Erwin Ansori mengatakan pemanfaatan potensi air setempat diharapkan dapat berkontribusi terhadap ketahanan energi sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

Dalam pengoperasiannya, air yang digunakan untuk pembangkitan dialirkan kembali ke Sungai Batangtoru setelah melewati mesin pembangkit. Penggunaan air dilakukan secara harian dengan mempertimbangkan prosedur operasi dan pemantauan debit sungai, termasuk untuk menjaga keselamatan kawasan hilir.

Dari sisi konstruksi, PLTA Batangtoru menggunakan head race tunnel atau saluran air bawah tanah sepanjang sekitar 12,2 kilometer dengan diameter 8,8 meter. Sistem tersebut menjadi bagian dari desain proyek yang juga mencakup bendungan dan waduk, surge tank, power house, switchyard, serta jaringan transmisi 275 kilovolt (kV).

Tenaga Ahli PT NSHE Hadi Susilo mengatakan perencanaan berbagai bangunan proyek mempertimbangkan kondisi geologi, geoteknik, pola debit banjir Sungai Batangtoru, serta penilaian bahaya kegempaan. Desain bendungan dan bangunan pelengkapnya, kata dia, telah mendapat persetujuan Menteri Pekerjaan Umum berdasarkan rekomendasi teknis Komisi Keamanan Bendungan.

Aspek keselamatan juga diterapkan melalui pemantauan kondisi bendungan dan bangunan pelengkap menggunakan sejumlah instrumen, antara lain extensometer, piezometer, dan strong motion accelerograph. Pemantauan tersebut dilengkapi sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang telah diuji coba dan disosialisasikan kepada masyarakat sekitar.

Baca Juga: Keandalan PLTA Terganggu Elnino, Bahlil dan PLN Cari Jalan Keluar

Manajer Kualitas PT NSHE Zul Fadli menambahkan, keselamatan menjadi bagian dari setiap tahapan pekerjaan. Kesiapan instalasi dievaluasi melalui hasil pengujian dan data pemantauan secara berkala.

Pengembangan PLTA Batangtoru juga mencakup pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dokumen lingkungan yang berlaku serta koordinasi dengan kementerian dan instansi terkait.

Melalui proyek yang menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional tersebut, PT NSHE berharap pemanfaatan potensi energi air dapat menambah kapasitas energi terbarukan sekaligus mendukung keandalan pasokan listrik di wilayah Sumatra.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat