Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kini Terancam Dimakzulkan, Gibran Ternyata Jadi Opsi Terakhir Cawapres Pilihan Prabowo

Kini Terancam Dimakzulkan, Gibran Ternyata Jadi Opsi Terakhir Cawapres Pilihan Prabowo Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menentukan calon wakil presiden untuk Pilpres 2024 ternyata bukan perkara sederhana bagi Prabowo Subianto. Mantan Ketua MK Prof Jimly Asshiddiqie mengungkap sejumlah nama sempat masuk dalam perhitungan sebelum akhirnya Gibran Rakabuming Raka dipilih sebagai pendamping Prabowo.

Jimly menyebut Erick Thohir hingga Khofifah Indar Parawansa sempat memiliki posisi kuat dalam bursa tersebut. Bahkan, Airlangga Hartarto dan Muhaimin Iskandar juga disebut ikut membuat perhitungan politik Prabowo semakin rumit.

"Begitu juga Prabowo ini. Kalau kita lihat-lihat dari luar dia, itu kan menurut survei yang paling tinggi itu Erick untuk calon bakal cawapres. Erick paling tinggi. Iya, Gibran enggak ada jauh. Ya. Nomor satu Erick, nomor dua itu Khofifah. Ya. dan seterusnya," ungkap Jimly.

Baca Juga: Adik Prabowo: Indonesia Memiliki Masa Depan yang Cerah Karena Banyak Sekali Alasan

Sejumlah survei pada 2023 memang menunjukkan Erick Thohir termasuk nama yang kuat dalam bursa cawapres Prabowo.

Namun, persoalan tidak berhenti pada tingkat popularitas. Jimly menyebut Prabowo juga harus menghitung peta politik di Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dianggap memiliki arti penting dalam kontestasi Pilpres 2024.

"Di kepala Prabowo itu kira-kira bagaimana ini menggarap karena 01 03 ini punya afiliasi NU semua di Jawa Timur itu. Dia menganggap Jawa Barat ini insyaallah menang dah. Tapi Jawa Timur itu Jawa Tengah itu 03, Jawa Timur jadi kunci," terangnya.

Dari situ, Prabowo disebut harus mempertimbangkan sejumlah nama yang dapat memperkuat koalisi. Khofifah disebut memiliki dukungan dari Demokrat, sementara Erick unggul dalam sejumlah survei.

"Maka dia mikir-mikir ini, karena Khofifah diajukan oleh Demokrat. Dia mikir juga Khofifah ini, tapi menurut survei Erick itu lebih tinggi ya secara nasional. Ya pusing gue tuh," sebutnya.

Perhitungan tersebut kemudian semakin kompleks ketika nama Airlangga Hartarto dan Muhaimin Iskandar ikut masuk dalam dinamika.

"Saking dia pusing, ya, tambah lagi. Airlangga kan partai terbesar. Wah lebih pusing lagi deh setelah itu Muhaimin, waduh gawat ini, salah milih orang pada bubar ini, koalisi gitu lho. Sambil dia pusing-pusing. Tiba-tiba ibu Mega mengumumkan Ganjar Mahfud. Ganjar dulu. kemudian Mahfud," kata Jimly.

Di tengah situasi tersebut, nama Gibran akhirnya mulai masuk dalam perhitungan setelah putusan MK mengubah ketentuan mengenai batas usia calon presiden dan wakil presiden.

"Prabowo jadi pusing dia. Begitu ada keputusan bahwa apa namanya umur boleh di bawah 40. Nah, dia berpikir-pikir, boleh juga ini. Begitu dia ngomong tentang Gibran, semua partai itu setuju semua. Bahkan Golkar lebih duluan mengusulkan," ucap Jimly.

Jimly juga menilai masuknya Gibran dalam bursa tidak bisa dilepaskan dari faktor Jokowi. Menurut dia, posisi Jokowi sebagai bagian dari pemerintahan saat itu turut memengaruhi respons partai-partai politik.

"Sekali lagi karena budaya. Karena faktor Jokowi. Mereka ini kan di dalam koalisi pemerintahan Jokowi," tambahnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri