Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Utang Emiten Bakrie (VIVA) Menumpuk Rp1,72 Triliun, Pemegang Saham Lama Terancam Terdilusi 72,35%

Utang Emiten Bakrie (VIVA) Menumpuk Rp1,72 Triliun, Pemegang Saham Lama Terancam Terdilusi 72,35% Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Emiten media Grup Bakrie, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), mengambil langkah besar untuk mengatasi beban utang yang membelit keuangan perseroan. 

Manajemen VIVA berencana mengonversi utang senilai Rp1,72 triliun menjadi saham. Namun, langkah ini membawa konsekuensi besar bagi pemegang saham lama, yang terancam mengalami dilusi kepemilikan hingga 72,35%.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI (9/10/2026), total utang yang akan dikonversi mencapai Rp1.723.493.387.881 atau sekitar Rp1,72 triliun. Kewajiban tersebut merupakan utang VIVA kepada dua kreditur terafiliasi, yakni PT Harta Abadi Jaya (HAJ) dan PT Jayakarta Sugih Makmur (JSM).

Untuk menyelesaikan kewajiban tersebut, VIVA akan menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

"Melalui aksi korporasi ini, perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 43,08 miliar saham Seri C," tulis Manajemen VIVA dalam keterangan resminya.

Langkah tersebut mencerminkan besarnya tekanan kewajiban keuangan yang harus ditangani VIVA. Sebelum konversi utang, total liabilitas perseroan tercatat mencapai Rp5,84 triliun per 30 Juni 2026 berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit.

Setelah konversi dilakukan, total liabilitas VIVA dalam laporan keuangan proforma diproyeksikan turun menjadi Rp4,12 triliun. Sementara itu, ekuitas perseroan diperkirakan melonjak dari Rp496,10 miliar menjadi Rp2,22 triliun.

Perbaikan rasio keuangan juga menjadi salah satu target utama aksi ini. Rasio total liabilitas terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) diproyeksikan turun tajam dari 11,78 kali menjadi 1,86 kali.

Meski berpotensi memperbaiki struktur neraca, skema konversi utang ini membawa risiko pengenceran kepemilikan yang signifikan bagi investor lama. Penerbitan puluhan miliar saham baru diperkirakan menyebabkan dilusi hingga 72,35%.

Baca Juga: Danantara dan Bakrie (ENRG) Kompak Investasi di Perusahaan Migas AS, Ada Apa?

Baca Juga: Levoca Enterprise Buang 3,77 Miliar Saham Bakrie (BNBR), Ada Apa?

Harga pelaksanaan konversi dalam perhitungan awal ditetapkan sebesar Rp40 per saham. Adapun harga final akan mengacu pada nilai tertinggi antara harga nominal Rp40 per saham dan rata-rata harga penutupan saham VIVA selama 25 hari bursa sebelum pengajuan pencatatan saham.

Di sisi lain, perubahan struktur permodalan tersebut dipastikan tidak mengubah kendali atas perseroan. Bakrie Global Ventura (BGV), yang merupakan induk dari pemegang saham HAJ dan JSM, tetap berada di belakang struktur pengendalian VIVA.

Rencana konversi utang menjadi saham Seri C ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 November 2026. Jika berjalan sesuai jadwal, saham hasil konversi utang ditargetkan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 3 Desember 2026.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan