Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Momentum World Cup Bawa Saham VIVA Optimis

Momentum World Cup Bawa Saham VIVA Optimis Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) kembali mencuri perhatian pelaku pasar seiring menguatnya sentimen positif dari gelaran World Cup. Ajang sepak bola terbesar di dunia itu dinilai berpotensi menjadi katalis penting bagi emiten media, khususnya yang memiliki lini bisnis berbasis konten dan penyiaran.

Momentum World Cup secara historis kerap menjadi pendorong kinerja perusahaan media melalui lonjakan konsumsi konten, peningkatan traffic pemirsa, hingga kenaikan belanja iklan. Dalam periode event global seperti ini, pengeluaran iklan umumnya meningkat signifikan, terutama dari sektor FMCG, otomotif, dan platform digital yang berlomba memanfaatkan tingginya keterlibatan audiens.

Kondisi tersebut menempatkan VIVA dalam posisi yang cukup strategis. Sebagai emiten yang memiliki eksposur kuat di sektor media televisi dan digital, VIVA dinilai memiliki peluang besar untuk menangkap limpahan sentimen positif tersebut. Dengan jaringan distribusi konten yang luas serta basis penonton yang telah terbentuk, setiap kenaikan viewership berpotensi langsung mendorong pertumbuhan pendapatan perseroan.

Tak hanya ditopang momentum event global, VIVA juga dinilai menarik dari sisi valuasi. Dibandingkan emiten sejenis seperti PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), kapitalisasi pasar VIVA relatif lebih kecil sehingga dinilai masih memiliki ruang upside yang lebih besar apabila pasar mulai melakukan rerating seiring membaiknya kinerja.

Sorotan lain datang dari potensi ketidaksesuaian valuasi dalam struktur grup. Pasar mulai mencermati bahwa VIVA merupakan pemegang saham mayoritas di MDIA dengan kepemilikan sekitar 83,2 persen. Dengan kapitalisasi pasar MDIA yang berada di kisaran Rp5,5 triliun, maka secara implisit nilai kepemilikan VIVA di MDIA saja mencapai sekitar Rp4,5 triliun.

Nilai tersebut jauh melampaui kapitalisasi pasar VIVA yang saat ini hanya sekitar Rp850 miliar. Kondisi ini memunculkan indikasi bahwa pasar belum sepenuhnya merefleksikan nilai aset yang dimiliki perseroan.

Dalam teori pasar modal, kondisi seperti ini dikenal sebagai holding discount, yakni ketika perusahaan induk diperdagangkan lebih murah dibandingkan nilai aset yang dimilikinya. Meski fenomena ini bukan hal baru, selisih valuasi yang terlalu lebar kerap dipandang sebagai peluang rerating, terutama jika muncul katalis yang mampu mendorong transparansi nilai atau perbaikan fundamental.

Sebagai pembanding, MDIA yang berada dalam ekosistem media grup besar cenderung memperoleh valuasi lebih premium karena didukung stabilitas bisnis dan kekuatan grup. Sementara VIVA, dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil, justru dinilai lebih agresif bergerak ketika mendapat dorongan sentimen positif seperti event global maupun perbaikan industri media.

Dari sisi teknikal, analis Rudy Setiawan dari MNC Sekuritas melihat pergerakan VIVA mulai menunjukkan sinyal yang menarik. Ia menilai saham ini sedang berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan membentuk dasar pergerakan yang cukup kuat.

“Secara teknikal, VIVA mulai mengindikasikan potensi breakout, ditopang oleh peningkatan volume transaksi dalam beberapa periode terakhir. Ini biasanya menjadi early signal akumulasi,” ujarnya.

Baca Juga: BEI Cermati Pergerakan Saham PKPK dan RCCC, Ini Alasannya

Menurut Rudy, selama harga saham VIVA mampu bertahan di atas area support kunci, peluang untuk melanjutkan tren kenaikan masih terbuka. “Risk-reward menjadi cukup menarik, terutama bagi trader jangka pendek yang mencari momentum berbasis sentimen event seperti World Cup,” tambahnya.

Secara keseluruhan, kombinasi sentimen World Cup, potensi celah valuasi, dan dukungan sinyal teknikal yang mulai menguat menempatkan VIVA sebagai salah satu saham media yang patut dicermati dalam jangka pendek hingga menengah. Saham ini dinilai menarik terutama bagi investor dengan profil risiko agresif yang memburu peluang dari momentum pasar.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat