Rocky Gerung Ngaku Masuk Istana Ingin Mengubah dari Dalam, Prof Uceng: 'Akan Sulit, karena Sistemnya Buruk'
Kredit Foto: Istihanah
Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Uceng memberikan pandangan kritis terkait keputusan Rocky Gerung yang mau bergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di era Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pernyataannya di kanal YouTube Uchange Indonesia, Zainal menekankan aspek hukum ketatanegaraan, struktur institusi, serta tantangan yang dihadapi oleh para intelektual kritis yang memilih masuk lingkaran kekuasaan.
Zainal memang mengakui menghormati pilihan pribadi Rocky Gerung. Menurutnya, setiap orang berhak mengubah metode perjuangan, dari luar sistem menjadi dari dalam.
Perubahan pandangan seiring waktu adalah hal wajar, sebagaimana contoh Marx muda dan Marx tua. Ia tidak sepenuhnya melarang intelektual atau pemikir masuk istana, meski mengakui adanya kesulitan struktural.
"Saya sudah bilang, semua orang bisa berubah. Waktu bisa mengubah orang, bisa mengubah pandangannya. ya seperti Marx muda dan Marx tua saja berubah," tegasnya.
"Saya tidak sepenuhnya mengharamkan seperti pemikir, orang yang ngaku melakukan perubahan untuk masuk ke Istana. Tapi, kalau boleh jujur, akan ada kesulitan untuk masuk ke sistem yang buruk," kata Zainal Arifin.
Namun, masalah muncul karena Rocky sebelumnya berulang kali berjanji tidak akan bergabung dengan kekuasaan dan tetap bersama suara kritis masyarakat sipil serta cara berpikir akademik. Akuntabilitas atas pernyataan tersebut bersifat pribadi, dan orang memang bisa berubah.
Zainal menyoroti sejarah institusi yang dimasuki Rocky. Wantimpres merupakan transformasi dari Dewan Pertimbangan Agung (DPA) era Orde Baru yang sering digunakan untuk “memarkir” tokoh senior.
Penelitian menunjukkan DPA hampir tidak efektif, masukan-masukannya jarang menjadi dasar kebijakan presiden.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat