Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Elektrifikasi sistem energi dinilai dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia. Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah menyebut skenario least cost electrification berpotensi memberikan kontribusi sekitar US$160 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama periode 2025–2035.
Imaduddin mengatakan nilai tersebut setara dengan sekitar 8–10% dari target pertumbuhan ekonomi 8% yang ingin dicapai Indonesia.
“Kalau kita bertanya bahwa 8% pertumbuhan ekonomi ke depan bagaimana cara mencapainya, salah satunya disumbang melalui elektrifikasi, least cost electrification dan skenarionya,” ujar Imaduddin dalam 'Pencapaian Pertumbuhan Ekonomi 8% melalui Implementasi PLTS 100 GWp dan Program Elektrifikasi' di Jakarta, Selasa (13/10/2026),
Menurut dia, elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi, tetapi juga memiliki dampak terhadap perekonomian melalui peningkatan produktivitas, efisiensi investasi, penguatan fiskal, hingga penciptaan lapangan kerja.
Berdasarkan analisis yang dipaparkan, penerapan skenario elektrifikasi juga dapat meningkatkan efisiensi investasi. Imaduddin menyebut kebutuhan investasi dapat berkurang sekitar US$17 miliar untuk menghasilkan tingkat output ekonomi yang sama.
“Artinya elektrifikasi ini ikut berkontribusi terhadap meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari investasi,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan rasio kebutuhan modal terhadap output atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR), sehingga investasi yang masuk dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
Dari sisi fiskal, elektrifikasi juga dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, khususnya minyak. Imaduddin menyebut skenario elektrifikasi dapat menurunkan kebutuhan minyak sekitar 22% pada 2035.
Penurunan permintaan minyak tersebut berpotensi menekan kebutuhan impor energi sekaligus mengurangi tekanan terhadap anggaran negara yang selama ini terbebani oleh subsidi dan kompensasi energi.
Selain berdampak terhadap ekonomi makro, elektrifikasi juga diproyeksikan mendorong masuknya investasi baru. Imaduddin menyebut sekitar US$56 miliar investasi berpotensi masuk pada periode 2025–2035, terutama pada sektor kendaraan listrik, baterai, energi surya, dan industri pendukung lainnya.
Baca Juga: Pupuk Kaltim Perluas Energi Terbarukan, PLTS Atap Dukung Operasional dan Kendaraan Listrik
Baca Juga: Bahlil Ungkap 4 Kebijakan Dorong UMKM Masuk Sektor Energi dan Minerba
Menurutnya, pengembangan sektor tersebut dapat memperkuat keterhubungan antara hilirisasi mineral dengan industrialisasi di sektor hilir.
“Kalau kita bisa mengembangkan industri hilir seperti kendaraan listrik, baterai, dan solar PV, maka akan ada keterhubungan antara hilirisasi yang dilakukan di sektor mineral dengan industrialisasi yang ada di hilir,” tutup Imaduddin.
Dari sisi ketenagakerjaan, skenario elektrifikasi diperkirakan dapat menciptakan tambahan sekitar 48 ribu lapangan kerja baru dibandingkan kondisi bisnis seperti biasa.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: