Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Kesejahteraan guru kembali menjadi sorotan di tengah perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, mengkritik pandangan Rocky Gerung yang mengaitkan pemenuhan gizi anak dengan anggaran gaji guru.
Iman menilai kebutuhan nutrisi anak dan kesejahteraan pendidik tidak seharusnya dipertentangkan seolah-olah salah satunya harus dikorbankan. Ia juga menyinggung kondisi guru yang masih mengeluhkan keterlambatan pembayaran tunjangan ketika persoalan anggaran pendidikan dan MBG diperdebatkan.
“Rocky Gerung menyerang guru demi membela MBG. Dengan menyatakan bahwa gaji guru diambil dari nutrisi anak, sehingga MBG gak masalah mengambil gaji guru. Kalau gurunya tidak punya gaji berbulan-bulan? Yang bisa diambil tinggal darahnya aja. Berarti lu ngisep darah guru, Rock,” tulis Iman melalui akun X, dikutip Senin (12/10/2026).
Pernyataan tersebut merupakan kritik Iman terhadap cara Rocky membingkai hubungan antara program pemenuhan gizi anak dan penghasilan guru. Bagi Iman, pembahasan mengenai kebutuhan nutrisi peserta didik tidak semestinya membuat persoalan kesejahteraan pendidik kehilangan perhatian.
Ia menegaskan bahwa gaji guru telah menjadi bagian dari pembiayaan pendidikan sebelum program MBG dijalankan. Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika penghasilan guru digambarkan seolah-olah mengambil jatah yang seharusnya digunakan untuk pemenuhan gizi anak.
“Gaji guru tidak pernah mengambil dana MBG, karena gaji guru sudah ada sebelum MBG. Justru MBG yang mengambil anggaran pendidikan, yang selanjutnya berdampak pada gaji guru,” tegas Iman.
Iman juga mempertanyakan keputusan menggunakan anggaran pendidikan untuk membiayai program MBG. Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan penempatan anggaran tersebut, terutama karena sektor pendidikan memiliki kebutuhan lain yang harus dipenuhi, termasuk pembayaran hak-hak tenaga pendidik.
Dalam kritiknya, Iman menyinggung ketentuan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia mempertanyakan alasan pembiayaan MBG harus menggunakan porsi anggaran pendidikan tersebut, alih-alih mengambil sumber pendanaan dari bagian APBN lainnya.
“Gaji guru dari 20% pendidikan, maka MBG bisa ambil 80% APBN. Kenapa harus berfilsafat buat ngambil 20% pendidikan? kurang gede apa lagi 80% APBN?” tulisnya.
Baca Juga: Loyalis Jokowi: Fokus Saja ke Karhutla dan Keracunan MBG, Jangan Urusi Pemakzulan Gibran
Ia kemudian merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menurutnya dapat menjadi dasar untuk memisahkan pembiayaan MBG dari alokasi minimal anggaran pendidikan. Iman berpendapat bahwa pemerintah perlu memastikan kebutuhan program tersebut tidak mengurangi ruang pembiayaan bagi kebutuhan inti pendidikan.
“MKM udah ngasih solusi, boleh diambil dari pendidikan, tapi diluar 20%. Artinya diambil dari 80% APBN kita,” lanjutnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keberatan Iman bukan ditujukan pada pemenuhan gizi anak sebagai tujuan program. Kritiknya lebih berfokus pada pilihan sumber pendanaan dan risiko ketika kebutuhan program pemerintah dipertentangkan dengan kesejahteraan guru.
Perdebatan tersebut muncul setelah Rocky Gerung membahas hubungan antara anggaran pendidikan, gaji guru, dan program MBG dalam siniar di kanal YouTube Bagas Muljadi. Rocky menggambarkan konsekuensi apabila seluruh dana pendidikan dialihkan untuk MBG atau seluruh anggaran MBG dialihkan untuk guru.
“Kalau misalnya seluruh dana Pendidikan dipindahkan ke MBG, gurunya mati tuh. Begitu pun sebaliknya, seluruh dana MBG dipindahkan untuk guru, gurunya cerdas tapi saat memulai mengajar anaknya bego, karena anaknya gak dapat nutrisi,” ujar Rocky, dikutip Senin (12/10/2026).
Rocky menekankan bahwa guru dan anak sama-sama membutuhkan dukungan. Namun, Iman menilai pembingkaian yang mempertentangkan keduanya justru mengaburkan persoalan mengenai bagaimana anggaran pendidikan seharusnya dialokasikan.
Keterlambatan tunjangan yang disinggung Iman menjadi bagian dari persoalan kesejahteraan pendidik yang perlu diperhatikan secara terpisah.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: