Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Waka Komisi IX DPR Sentil Janji 19 Juta Lapangan Kerja, 'Yang Ada Data dari Kemenkes 19 Juta Warga Alami Masalah Kesehatan Mental!'

Waka Komisi IX DPR Sentil Janji 19 Juta Lapangan Kerja, 'Yang Ada Data dari Kemenkes 19 Juta Warga Alami Masalah Kesehatan Mental!' Kredit Foto: Unsplash/AJ Garcia
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Charles Honoris, melontarkan kritik menohok terkait realisasi janji penyediaan 19 juta lapangan kerja baru.

Di tengah lesunya penyerapan tenaga kerja dan pesatnya disrupsi teknologi, janji politik tersebut kini dipertanyakan besar-besaran oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Charles menyoroti ironi memprihatinkan yang terjadi antara target penyerapan tenaga kerja dan realitas krisis kesehatan masyarakat saat ini.

Kritik Charles mencapai puncaknya saat ia menyandingkan klaim lapangan kerja dengan data resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ia menyebut hingga hari ini publik belum melihat bukti nyata dari pembukaan 19 juta lapangan kerja yang pernah dijanjikan.

"Hari ini kita belum melihat janji 19 juta lapangan kerja terealisasi, justru data dari Kemenkes bilang orang Indonesia yang terkena masalah kesehatan mental itu jumlahnya 19 juta," tandas Charles.

Kondisi ini dinilai mencerminkan tingginya tekanan ekonomi serta kecemasan masa depan yang membayangi generasi muda akibat sulitnya menembus dunia kerja.

Politikus PDI Perjuangan itu menambahkan kebijakan ketenagakerjaan nasional saat ini tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional.

Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan perubahan kebutuhan industri menuntut lahirnya regulasi yang adaptif serta berpihak pada anak muda.

Ia mendesak pemerintah untuk segera membangun kolaborasi konkret bersama dunia usaha guna menciptakan solusi lapangan kerja yang riil, bukan sekadar komoditas janji.

Lebih lanjut, Charles menekankan bahwa indikator keberhasilan ketenagakerjaan tidak boleh berhenti pada status terserapnya tenaga kerja semata. Kualitas hidup, peluang tumbuh, serta kesehatan mental pekerja harus menjadi perhatian utama pemerintah.

"Masa depan generasi muda bukan sekadar mendapatkan pekerjaan, tetapi juga tentang mendapatkan kehidupan sejahtera, berkembang, dan menjaga kesehatan mental mereka," tegasnya.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar krisis lapangan kerja ini tidak terus memicu lonjakan masalah kesehatan mental di Indonesia.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat