Hippindo Luncurkan 4.100 Barcode untuk UMKM, Kemendag Bidik Akses Pasar Global
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi sejumlah tantangan untuk memasarkan produknya melalui jaringan ritel modern. Salah satunya adalah kesiapan produk dari sisi identifikasi dan pengelolaan barang. Untuk membantu mengatasi kendala tersebut, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) memfasilitasi 4.100 barcode bagi UMKM binaan Kementerian Perdagangan.
Fasilitasi tersebut diluncurkan di Hall 1 ICE BSD, Tangerang, Kamis (15/10/2026), dalam rangkaian Pangan Nusa Expo 2026. Program ini melibatkan Kementerian Perdagangan dan ditandai dengan penyerahan simbolis barcode oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal Shoffan Shofwan bersama Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah.
Barcode yang diberikan mencakup berbagai jenis produk, mulai dari makanan dan minuman hingga produk perawatan kesehatan dan kecantikan, kerajinan, serta kebutuhan rumah tangga.
Bagi peritel, barcode membantu proses identifikasi barang, pencatatan transaksi, dan pengelolaan persediaan. Tanpa identitas produk yang dapat dipindai, proses penjualan di kasir bisa terhambat karena petugas harus mencari informasi harga secara manual.
Budihardjo sebelumnya menjelaskan bahwa ketiadaan barcode menjadi salah satu kendala praktis dalam menerima produk UMKM ke jaringan ritel. Karena itu, Hippindo berharap fasilitas tersebut dapat membantu pelaku usaha mempersiapkan produknya untuk dipasarkan melalui saluran penjualan yang lebih luas.
“Melalui fasilitasi 4.100 barcode secara gratis ini, Hippindo ingin mengambil peran dalam membantu UMKM mempersiapkan produknya agar semakin siap bersaing dan memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke jaringan ritel modern,” ujar Budihardjo di Tangerang, Kamis (15/10/2026).
Meski begitu, kepemilikan barcode tidak otomatis menjamin suatu produk diterima oleh peritel. UMKM tetap harus memenuhi persyaratan lain, termasuk ketentuan terkait kualitas, keamanan, perizinan, dan kapasitas pasokan sesuai kategori produk serta kebijakan masing-masing jaringan ritel.
Kemendag Dorong UMKM Masuk Ekosistem Perdagangan Modern
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan memandang fasilitasi barcode sebagai bagian dari upaya membawa UMKM dari pola perdagangan tradisional menuju ekosistem perdagangan yang lebih modern.
Menurut Iqbal, manfaat yang diharapkan dari program ini mencakup perluasan akses pasar, efisiensi usaha, dan peningkatan daya saing produk.
“Kehadiran barcode diharapkan dapat mendukung proses pendataan, identifikasi, serta pengelolaan produk secara lebih terstruktur, sehingga membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran dan meningkatkan daya saing produknya,” ujar Iqbal.
Pemerintah juga berharap dukungan tersebut tidak berhenti pada pemberian barcode. Produk UMKM perlu memperoleh kesempatan untuk masuk ke jaringan ritel modern dan mendapatkan penyerapan pasar yang berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, perluasan akses distribusi diharapkan membantu produk lokal menjangkau pasar yang lebih besar, termasuk kawasan ASEAN dan pasar internasional lainnya.
Namun, untuk menembus pasar ekspor, pelaku UMKM tetap perlu memenuhi standar dan ketentuan negara tujuan serta memastikan kemampuan produksi dan distribusi. Dengan demikian, barcode menjadi salah satu sarana pendukung, bukan satu-satunya penentu keberhasilan ekspansi pasar.
Hippindo dan Food Station Perluas Kolaborasi
Selain peluncuran program barcode, Hippindo dan PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kolaborasi perdagangan dalam negeri. Penandatanganan dilakukan oleh Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah dan Direktur Utama Food Station Fetty Kwartati.
Kerja sama tersebut diharapkan memperluas akses pemasaran produk dalam negeri. Meski demikian, rincian mengenai produk yang akan diprioritaskan, target penyerapan, dan mekanisme implementasi kemitraan masih perlu diperjelas oleh kedua pihak.
Baca Juga: Kemendag Pangkas HPE Emas Jadi US$135.024 per Kilogram
Baca Juga: Kemendag: Produk Kecantikan Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp39,8 Miliar di Beautyworld Dubai 2026
Hippindo juga memiliki sejumlah program untuk mempertemukan UMKM dengan pasar, antara lain UMKM Pangan Award Goes to Retail Modern, yang mendorong produk pangan UMKM masuk ke jaringan ritel, serta Campuspreneur untuk mendukung pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa.
Selain itu, asosiasi tersebut terlibat dalam program Belanja di Indonesia Aja (BINA), yang mendorong masyarakat berbelanja di dalam negeri untuk menggerakkan perdagangan domestik.
Dengan jaringan yang disebut mencakup lebih dari 380 perusahaan, 800 merek, dan 80.000 gerai, Hippindo memiliki potensi untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai saluran pemasaran. Tantangannya adalah memastikan peluang tersebut benar-benar berujung pada kemitraan dan penjualan produk.
Pada akhirnya, efektivitas fasilitasi 4.100 barcode akan terlihat dari pemanfaatannya oleh UMKM. Ukurannya bukan hanya jumlah barcode yang dibagikan, tetapi juga berapa banyak produk yang berhasil masuk ke jaringan ritel, memperoleh pembeli, dan meningkatkan penjualan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan