Sejumlah Tantangan Hadang Industri Mamin: Krisis Bahan Baku hingga Cukai Minuman Manis
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Industri makanan dan minuman (mamin) menargetkan pertumbuhan mendekati 7% pada 2026. Namun, target tersebut menghadapi tantangan berupa potensi menipisnya pasokan sejumlah bahan baku pada awal 2027.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, persoalan pasokan bahan baku menjadi salah satu topik utama dalam pertemuannya dengan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji.
Menurut Adhi, sejumlah pelaku industri mulai mengalami kekurangan bahan baku. Masalah ini muncul karena stok yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan industri, termasuk adanya ketidaksesuaian dalam kontrak pasokan.
"Karena ternyata ada beberapa industri anggota kami yang kekurangan. Kemudian dikoordinasikan oleh Pak Dirjen dan tim dari industri agro, ternyata ada mismatch," kata Adhi di Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026).
Baca Juga: Alarm Industri Mamin! Stok Bahan Baku Diprediksi Habis Awal 2027
Ia menjelaskan, sebagian stok bahan baku belum memiliki kontrak pasokan, sementara stok lainnya sudah habis dan kontrak yang tersedia tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan industri.
Adhi menyebut kondisi tersebut masih dapat diatasi untuk memenuhi kebutuhan industri hingga akhir 2026. Namun, pemerintah perlu mempercepat langkah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pada awal tahun depan.
"Kita minta tahun 2027 awal itu sudah stoknya, kami hitung akan habis. Oleh sebab itu perlu percepatan untuk NK (Neraca Komoditas)-nya supaya bisa diputuskan oleh pemerintah segera," ujarnya.
Percepatan penetapan Neraca Komoditas (NK) dinilai penting agar pemerintah dapat segera mengambil keputusan terkait pasokan bahan baku, sehingga kegiatan produksi industri mamin tetap berjalan dan target pertumbuhan tahun ini dapat terjaga.
Sejumlah bahan baku yang menjadi perhatian industri antara lain gula, garam, jagung, hingga daging. Komoditas tersebut dibutuhkan untuk menjaga kelancaran produksi sekaligus mempertahankan daya saing industri makanan dan minuman.
Adhi mengatakan kepastian pasokan bahan baku menjadi semakin penting karena industri mamin tidak hanya mengejar pertumbuhan produksi, tetapi juga berupaya menyediakan produk dengan harga yang tetap terjangkau bagi konsumen.
"Yang paling utama bagi kami bahan baku, karena bahan baku ini menjadi kunci dalam kita meningkatkan daya saing dan sekaligus memproduksi produk-produk yang terjangkau untuk konsumen kita," katanya.
Di sisi lain, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menilai persoalan tersebut belum menunjukkan kondisi kekurangan bahan baku secara keseluruhan.
Menurut Putu, secara kuantitas, pasokan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industri hingga akhir 2026 masih mencukupi. Persoalan yang perlu diselesaikan adalah mempertemukan ketersediaan tersebut dengan kebutuhan masing-masing industri.
"Kalau kita lihat, industri mamin ini berkinerja mungkin sangat bagus kalau dibandingkan dengan yang lain. Ini sangat bagus, meskipun belum seperti yang sebelum Covid," kata Putu.
Dia menambahkan, untuk pasokan bahan baku hingga akhir tahun, jumlahnya secara total masih mencukupi. Namun, terdapat persoalan pada sisi kebutuhan dan ketersediaan yang belum sepenuhnya bertemu.
"Secara totalnya mencukupi. Cuma tadi tinggal ada jumlahnya, kuantitasnya berkecukupan, nah ini yang perlu dipertemukan. Kebutuhan dan dari yang punya sekarang," ujarnya.
Persoalan pasokan tersebut menjadi penting karena industri mamin masih memasang target pertumbuhan yang cukup tinggi. Adhi mengatakan pelaku industri berharap sektor tersebut dapat tumbuh sekitar 6% hingga mendekati 7% sepanjang tahun ini.
Target tersebut masih berada di atas kinerja industri mamin pada semester I/2026 yang disebut mencapai sekitar 6,5%. Gapmmi berharap pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini dapat tetap terjaga atau bahkan lebih tinggi.
"Kita sih mintanya 6 koma, sudah mendekati 7 lah," kata Adhi.
Pemerintah pun berharap industri mamin tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri nasional. Putu menilai kinerja sektor tersebut relatif kuat dibandingkan sejumlah subsektor industri lainnya.
Adhi mengatakan optimisme tersebut salah satunya didasarkan pada harapan adanya koordinasi yang lebih cepat antar kementerian untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi industri.
Selain bahan baku, Gapmmi juga menyampaikan sejumlah isu lain kepada Menteri Perindustrian, mulai dari pengelolaan sampah hingga kebijakan halal. Menurut Adhi, penyelesaian sejumlah persoalan tersebut membutuhkan koordinasi dengan kementerian dan lembaga lain.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian industri adalah rencana penerapan cukai Minuman Bergula dalam Kemasan (MBDK). Gapmmi mengaku masih belum memperoleh gambaran mengenai skema maupun besaran cukai yang akan diterapkan.
Adhi mengatakan pihaknya masih meminta waktu untuk membahas kebijakan tersebut dengan Kementerian Keuangan. Industri juga belum dapat memperkirakan dampak kebijakan tersebut terhadap harga produk karena desain kebijakannya belum diketahui.
"Kita belum dapat angka-angkanya, juga belum tahu programnya pemerintah seperti apa. Nah, kami menunggu dari Kemenkeu untuk ini," ujarnya.
Baca Juga: Ekspor Mamin Indonesia Naik 19,5 Persen, Target Baru Dipasang hingga 2029
Baca Juga: Menperin Bongkar Alarm Lapangan Kerja RI: Ekonomi Tumbuh, Serapan Pekerja Menyusut!
Gapmmi lebih mendorong pemerintah memperkuat edukasi kepada konsumen mengenai pola konsumsi dibandingkan hanya mengandalkan instrumen cukai. Menurut Adhi, kenaikan harga akibat cukai belum tentu secara otomatis menekan risiko penyakit tidak menular jika pola konsumsi masyarakat tidak berubah.
Di sisi industri, dia mengatakan produsen terus melakukan reformulasi produk serta mendorong pilihan pangan yang lebih sehat, termasuk mengurangi kandungan gula, garam, dan lemak.
Dengan target pertumbuhan yang tetap tinggi, industri mamin kini membutuhkan kepastian pasokan bahan baku sekaligus kebijakan yang mendukung daya saing. Pemerintah di sisi lain perlu memastikan bahan baku yang secara agregat tersedia benar-benar dapat memenuhi kebutuhan industri secara tepat waktu, terutama memasuki awal 2027.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan