Gaya Hidup Gubernur Kaltim dan Istri Disorot Media Asing, 'Cuek' Di Tengah Warganya Tersedak Asap Karhutla
Kredit Foto: Istimewa
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, kembali menjadi sorotan tajam, usai foto-fotonya saat sarapan bersama sang istri di kawasan mewah Marina Bay Sands, Singapura, viral di media sosial.
Kunjungan luar negeri tersebut memicu gelombang kemarahan warganet karena dilakukan di tengah krisis Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kabut asap pekat yang merenggut ruang napas warga.
Merespons tuduhan "cuek" dan pelesiran di tengah penderitaan rakyat, Rudy Mas’ud membantah narasi liburan tersebut dan mengklaim keberadaannya di Singapura semata-mata untuk menjalani pemeriksaan kesehatan (medical check-up).
Aksi Gubernur Kaltim yang berada di luar negeri saat wilayahnya terkepung asap memantik reaksi keras netizen di media sosial.
Banyak warganet yang melabeli tindakan tersebut "tone deaf" hingga membandingkannya dengan figur kontroversial sejarah Perancis, Marie Antoinette yang dijuluki Madame Defisit.
"Rakyatnya kesulitan bernapas dan berjuang hidup, sementara pejabatnya malah santai saja di Singapura," tulis salah satu pengguna media sosial.
Media asing pun ikut menyorot langkah kontroversial sang gubernur dari Partai Golkar tersebut, South China Morning Post bahkan menangkap kemarahan juga datang dari warga Singapura dan Malaysia yang turut terdampak paparan kabut asap tersebut.
Beberapa komentar bahkan menyuarakan agar pejabat dari daerah sumber kabut asap dilarang memasuki wilayah Singapura.
"Kenapa gubernur dari daerah yang sedang terbakar justru diizinkan masuk? Orang Singapura dan Malaysia tersedak asap, tapi pejabatnya masih disambut hangat?" kritik salah seorang netizen.
Merespons polemik tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamdagri), Bima Arya Sugiarto, mengonfirmasi bahwa izin perjalanan luar negeri yang diajukan Rudy Mas’ud memang diterbitkan atas alasan kesehatan, namun disertai dengan catatan yang sangat ketat.
Bima Arya menegaskan bahwa kunjungan harus berlangsung singkat dan sang Gubernur wajib tetap memimpin koordinasi penanganan karhutla dari jarak jauh.
Kemendagri juga tidak menutup kemungkinan adanya sanksi tegas apabila ditemukan bukti bahwa agenda sebenarnya melenceng dari izin medis seperti menyaksikan ajang Formula 1.
"Izin diberikan dengan catatan khusus karena alasan kesehatan. Kalau ada bukti lain (seperti menonton F1), tentu akan ada pertimbangan dan sanksi lebih lanjut. Izinnya murni hanya untuk kesehatan," tegas Bima Arya.
Krisis Karhutla Memakan Korban Jiwa dan Pintu Bantuan Asing
Eskalasi karhutla di Indonesia saat ini berada pada tingkatan yang mengkhawatirkan. Selain memaksa penutupan sekolah di sejumlah wilayah Malaysia dan menurunkan kualitas udara Singapura, bencana ini juga telah merenggut nyawa petugas pemadam di lapangan.
Tercatat empat petugas gugur saat berjibaku memadamkan kobaran api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, pada Kamis lalu. Selain ancaman keselamatan jiwa manusia, kebakaran hebat ini mengancam ekosistem dan keberlangsungan habitat orangutan.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui penerimaan bantuan pemadaman dari negara tetangga, seperti Malaysia yang menyiapkan helikopter, pesawat, dan puluhan personel pemadam.
Saat ini, lebih dari 60.000 personel gabungan terus disiagakan di enam provinsi prioritas guna menanggulangi titik api.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: