Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang mengepung sejumlah wilayah sejak awal tahun ini tak kunjung mereda. Kabut asap pekat tidak hanya mencekik pernapasan jutaan warga, tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian dan pendidikan. Hal ini membuat geram Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ke Presiden Prabowo Subianto.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI PDIP, Alex Indra Lukman menilai pemerintah terkesan lambat dan kewalahan dalam memadamkan titik-titik api yang terus meluas. Ia mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah taktis yang cepat, bahkan jika itu berarti harus mengesampingkan gengsi kedaulatan dengan meminta bantuan internasional.
Baca Juga: Babak Baru Polemik Ijazah, Kubu Gibran Tantang Denny Indrayana Tunjukkan SP3 Korupsi di 2015
Menurut Alex, keselamatan dan nyawa rakyat harus ditempatkan di atas segalanya. Jika memang infrastruktur, peralatan dan teknologi pemadaman yang dimiliki negara saat ini sudah tidak lagi mumpuni untuk menjinakkan api, maka meminta pertolongan kepada negara sahabat adalah opsi yang sangat rasional dan manusiawi.
"Kami mendesak presiden, jangan tunggu korban terus berjatuhan. Kalau negara ini tak memiliki peralatan, tentu akan banyak bangsa yang bersedia turut membantu seperti yang dilakukan Jepang beberapa waktu lalu," kata Alex, Jumat (16/10/2026).
Alex memandang bahwa pemadaman karhutla skala besar di era modern ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional. Dibutuhkan intervensi teknologi mutakhir, mulai dari rekayasa cuaca yang masif hingga pesawat pemadam (water bomber) berkapasitas raksasa yang mungkin saat ini tidak dimiliki atau jumlahnya terbatas di Indonesia.
"Karhutla ini memerlukan penanganan dengan bantuan kecanggihan teknologi,” ungkapnya.
Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan luas lahan yang hangus terbakar sejak tahun ini saja sudah melebihi kisaran 107.465 hingga 202.004 hektare. Puncak krisis terpantau pada pertengahan tahun ini dengan penyebaran titik api terparah di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Papua Selatan.
Alex mengingatkan presiden bahwa membiarkan karhutla berlarut-larut tanpa eskalasi penanganan yang berarti, sama saja dengan mempertaruhkan reputasi Indonesia di mata internasional.
Baca Juga: Belum Genap 2 Tahun Menjabat Tapi Prabowo Bongkar Pasang Kabinet 8 Kali, Ini Kata Gerindra
Ia mewanti-wanti agar lambatnya respons pemerintah tidak sampai mengubah pandangan dunia luar yang menganggap pemerintah gagal melindungi rakyat dan paru-paru buminya sendiri. Oleh karena itu, bantuan asing harus segera dipertimbangkan sebagai solusi kedaruratan yang nyata.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar