Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) melihat peluang memperluas pasar ekspor kendaraan hybrid, termasuk melalui pengembangan model Avanza Hybrid. Namun, realisasi mobil hybrid berbasis Avanza masih bergantung pada kesiapan produksi, sumber daya, dan kebutuhan pasar.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan, teknologi hybrid berpeluang menjangkau banyak negara, terutama pasar yang membutuhkan efisiensi bahan bakar tanpa harus bergantung pada infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.
“Kalau memang modelnya Innova sama Avanza, hybrid-nya cukup lumayan, hampir semua negara bisa,” kata Nandi di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10/2026).
Amerika Latin menjadi salah satu kawasan yang dinilai potensial. Menurut Nandi, konsumen di kawasan tersebut membutuhkan kendaraan hemat bahan bakar, tetapi belum tentu memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung penggunaan mobil listrik berbasis baterai.
“Jadi masih di negara-negara kayak Amerika Latin itu, mereka ingin efisiensi bahan bakar, tetapi tidak perlu ada infrastruktur,” ujarnya.
Peluang tersebut membuka ruang bagi Toyota untuk mengembangkan ekspor kendaraan elektrifikasi dari Indonesia. Apalagi, Avanza dan Veloz selama ini menjadi bagian penting dari jajaran kendaraan Toyota yang dipasarkan di dalam maupun luar negeri.
Meski demikian, Toyota belum memastikan kapan Avanza Hybrid akan diproduksi. Nandi mengatakan, pengembangan varian hybrid untuk model tersebut masih membutuhkan kesiapan tambahan, termasuk proses homologasi dan koordinasi dengan fasilitas Toyota di Thailand dan Jepang.
Avanza dan Veloz memiliki basis kendaraan yang relatif serupa sehingga pengembangan teknologi hybrid untuk Avanza secara teknis memungkinkan. Namun, untuk saat ini, TMMIN masih memprioritaskan pengembangan Veloz Hybrid karena keterbatasan sumber daya untuk menjalankan homologasi tambahan.
Di Indonesia, Toyota telah memproduksi Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid, dan Yaris Cross Hybrid di fasilitas manufaktur Karawang, Jawa Barat. Permintaan terhadap kendaraan hybrid juga menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan perusahaan.
Hingga akhir Agustus 2026, produksi Veloz Hybrid di Indonesia mencapai 15.737 unit. Adapun pemesanannya di pasar domestik telah melampaui 19.000 unit sejak pemesanan dibuka pada November 2025 hingga Agustus 2026.
Tantangan ekspor kendaraan hybrid bukan hanya terletak pada kesiapan produksi. Perbedaan spesifikasi di setiap negara, termasuk posisi kemudi, juga memengaruhi penentuan pasar tujuan.
Baca Juga: Toyota Kuasai 60,3% Ekspor Mobil RI, Tembus 223 Ribu Unit dalam 9 Bulan
Sementara itu, ekspor kendaraan utuh Toyota dari Indonesia mencapai 223.696 unit pada Januari-September 2026, naik 2,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 218.162 unit. Angka tersebut setara dengan sekitar 60,2% dari total ekspor kendaraan utuh atau completely built-up (CBU) Indonesia.
Selain Avanza dan Veloz, kendaraan Toyota yang diekspor dari Indonesia mencakup Raize, Yaris Cross, Fortuner, serta Agya atau Wigo.
Nandi menegaskan, Toyota tidak menutup kemungkinan mengembangkan model hybrid lainnya, termasuk Avanza. Namun, keputusan tersebut tetap mempertimbangkan kebutuhan pasar, kesiapan sumber daya, dan proses homologasi.
Terkait waktu peluncuran Avanza Hybrid, Nandi belum memberikan kepastian. “Sayangnya kita Avanza belum punya hybrid. Mudah-mudahanlah, kapan? Soon. Doain ya, doain,” katanya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman