Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih mengkaji strategi untuk memenuhi target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan elektrifikasi sebesar 60%. Salah satu pertimbangan utamanya adalah keekonomian investasi baterai di tengah volume produksi yang perlu diperhitungkan secara matang.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto mengatakan, perusahaan masih mendiskusikan sejumlah opsi dengan kantor pusat Toyota untuk menentukan langkah yang sesuai dengan ketentuan pemerintah sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.
Menurut Nandi, keputusan meningkatkan kandungan lokal tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan investasi dan kapasitas produksi. Toyota perlu memastikan investasi yang dikeluarkan sebanding dengan jumlah kendaraan yang diproduksi.
“Kalau kita bicara investasi, kita harus hati-hati. Kalau kita investasi untuk mencapai 60 persen, berarti kan kita harus investasi baterai,” ujar Nandi dalam diskusi dengan wartawan.
Ia menjelaskan, Toyota juga mempertimbangkan skala ekonomi sebelum memutuskan investasi lebih lanjut. Produksi dengan volume terbatas berpotensi membuat biaya per unit menjadi lebih tinggi sehingga dapat memengaruhi daya saing produk.
Sebagai ilustrasi, Nandi menyinggung tantangan produksi kendaraan elektrifikasi dengan volume yang masih kecil. Dalam kondisi tersebut, perusahaan perlu memperhitungkan apakah investasi tambahan dapat ditopang oleh permintaan pasar.
Di sisi lain, Toyota tidak ingin keputusan terkait biaya produksi berujung pada kenaikan harga kendaraan yang harus ditanggung konsumen.
Karena itu, perusahaan masih mengkaji sejumlah kemungkinan, termasuk melanjutkan produksi dengan skema perakitan kendaraan dalam bentuk completely knocked down (CKD) apabila target kandungan lokal belum dapat dipenuhi secara ekonomis.
“Kalau belum bisa, ya kita tetap akan continue CKD,” kata Nandi.
Kandungan Lokal dan Investasi Baterai
Penggunaan baterai berbasis nikel menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung Toyota dalam meningkatkan kandungan lokal kendaraan elektrifikasi. Namun, pemenuhan target TKDN 60% masih memerlukan perhitungan investasi dan skala produksi.
Nandi mengatakan, teknologi baterai yang digunakan Toyota saat ini sudah berbasis nikel. Dengan kondisi tersebut, perusahaan memperkirakan kandungan lokal dapat meningkat, meski pencapaian target tetap bergantung pada strategi produksi yang dipilih.
“Kalau kita mengacu kepada yang sekarang, itu ya otomatis bisa karena sudah nickel-based,” kata Nandi.
Ia menambahkan, Toyota memperkirakan kandungan lokal bisa mencapai sekitar 52% dengan menggunakan teknologi baterai berbasis nikel yang ada saat ini.
Baca Juga: BYD Pamer Teknologi Cas 5 Menit, Baterai Mobil Listrik Terisi hingga 70%
Baca Juga: Veloz Hybrid Laris Manis, Avanza Hybrid Masih Menggantung
Baca Juga: TKDN Mobil Listrik 60% Bisa Dikejar, Kemenperin Ungkap Syaratnya
“Kalau misalnya kita pakai nickel-based, optimistis 52% langsung bisa dapat,” ujarnya.
Meski demikian, peningkatan kandungan lokal hingga 60% belum diputuskan. Toyota masih mempertimbangkan besaran investasi yang dibutuhkan, terutama untuk produksi baterai, serta kemampuan volume kendaraan dalam menopang biaya tersebut.
Nandi juga menyoroti perkembangan teknologi baterai yang terus berlangsung, mulai dari peningkatan jarak tempuh, pengurangan bobot, hingga penurunan biaya produksi.
“Kalau kita bicara baterai, teknologi juga berkembang. Berkembang dari sisi bagaimana lebih long range, bagaimana lebih ringan, bagaimana lebih murah, termasuk di dalamnya solid state,” tuturnya.
Menurut Nandi, pertimbangan tersebut menjadi bagian dari pembahasan Toyota sebelum menentukan langkah investasi berikutnya untuk memenuhi ketentuan kandungan lokal kendaraan elektrifikasi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan