Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekonomi Tertekan, BBM Langka, Karhutla Meluas, Peneliti Sebut Indonesia Tak Baik-Baik Saja

Ekonomi Tertekan, BBM Langka, Karhutla Meluas, Peneliti Sebut Indonesia Tak Baik-Baik Saja Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia menghadapi tekanan di sejumlah sektor secara bersamaan, mulai dari ekonomi, energi, hingga lingkungan. Peneliti ISEAS Yusof-Ishak Institute, Made Supriatma, menilai kondisi tersebut membutuhkan penanganan serius, bukan sekadar pernyataan optimistis.

Made menyoroti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Menurutnya, gejolak di pasar keuangan mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional.

"Kejatuhan indeks saham tentu saja diikuti oleh mata uang Rupiah. Penurunan ini mencerminkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional," ujar Made Supriatma, dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (18/10/2026).

Tekanan ekonomi juga beriringan dengan persoalan pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang dilaporkan meluas ke sejumlah daerah, termasuk Bali. Made menilai situasi tersebut memperlihatkan besarnya tekanan pada pembiayaan dan subsidi energi, terutama ketika harga minyak mentah dunia meningkat.

Persoalan lain datang dari krisis lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap tebal yang berdampak pada jutaan warga hingga negara tetangga memicu keluhan publik dan media regional, sekaligus memperbesar sorotan terhadap penanganan karhutla.

"Kita sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Krisis ekonomi, krisis energi, dan krisis lingkungan yang terjadi secara bersamaan membutuhkan solusi konkret dan penanganan yang sangat serius," tegas Made.

Baca Juga: BEI Pede Indonesia Masih Layak Jadi Emerging Market, Sebut Pasar Saham RI Terlalu Besar

Di pasar modal, Indonesia juga menghadapi risiko penurunan klasifikasi oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), dari emerging market menjadi standalone market. Perubahan status tersebut berpotensi memicu keluarnya modal asing dari pasar saham, meningkatkan biaya pembiayaan, serta memperlambat investasi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan bahwa risiko tersebut tidak berhenti pada pasar saham. Menurutnya, tekanan dapat merambat ke pasar obligasi, nilai tukar rupiah, hingga sektor riil, terutama jika gejolak ikut mengurangi kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia secara keseluruhan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy