Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Peternak Ayam Hadapi Kerugian Usai Harga Anjlok, Dua Bulan Lagi Terancam Gulung Tikar

Peternak Ayam Hadapi Kerugian Usai Harga Anjlok, Dua Bulan Lagi Terancam Gulung Tikar Kredit Foto: Antara/Arif Firmansyah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peternak ayam broiler mandiri menghadapi tekanan ganda akibat harga jual ayam hidup yang melemah hingga Rp20.000 per kilogram, sementara harga pakan meningkat hingga Rp10.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat peternak merugi Rp4.000–Rp5.000 per ekor dan terancam menghentikan usaha dalam dua bulan jika tidak ada intervensi pemerintah.

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) menilai ketimpangan antara harga jual dan biaya produksi semakin menggerus modal peternak untuk menjalankan siklus produksi berikutnya.

Anggota Permindo, Asep Saepudin, mengatakan harga ayam hidup atau live bird di tingkat peternak sempat turun ke kisaran Rp20.000–Rp20.500 per kilogram. Pada saat yang sama, harga pakan telah mencapai Rp9.700–Rp10.000 per kilogram dan masih berpotensi meningkat.

“Lebih mengkhawatirkan di peternak ini, harga pakan yang terus mengalami kenaikan,” ujar Asep dalam keterangannya, dikutip Minggu (18/10/2026).

Menurut Asep, kerugian yang dialami peternak tidak hanya menekan pendapatan, tetapi juga mengurangi kemampuan mereka membiayai produksi berikutnya. Jika kondisi tersebut berlanjut, peternak mandiri berisiko kehilangan modal kerja untuk mempertahankan usahanya.

“Kalau kondisi ini dibiarkan terus, dua bulan lagi semua gulung tikar,” tegasnya.

Permindo menilai pemulihan harga ayam hidup menjadi salah satu langkah mendesak untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak mandiri. Organisasi tersebut mendesak pemerintah mengendalikan harga ayam di tingkat peternak yang dinilai masih belum mampu menutup biaya produksi.

Asep juga meminta perusahaan peternakan terintegrasi yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan harga pasar menyesuaikan harga jual ayam hidup. Menurutnya, perbaikan harga diperlukan agar peternak mandiri memperoleh nilai jual yang lebih sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan.

Permindo mengusulkan harga ayam hidup dijaga minimal Rp24.000 per kilogram. Sementara itu, harga pakan diharapkan turun ke kisaran Rp8.000–Rp8.500 per kilogram.

Usulan tersebut ditujukan untuk mempersempit kesenjangan antara harga jual ayam dan biaya produksi yang saat ini ditanggung peternak.

Namun, Permindo tidak merinci harga pokok produksi rata-rata per kilogram ayam maupun periode acuan harga yang digunakan. Karena itu, dampak perubahan harga terhadap pemulihan margin peternak masih memerlukan perhitungan lebih lanjut.

Tekanan terhadap industri ayam broiler juga berasal dari kenaikan harga bahan baku pakan. Permindo melaporkan harga jagung telah mencapai Rp8.400 per kilogram, sementara pasokannya mengalami kelangkaan.

Jagung merupakan salah satu bahan baku penting dalam industri pakan ternak. Kenaikan harga dan terbatasnya pasokan berpotensi menambah beban biaya produsen pakan, yang kemudian dapat memengaruhi biaya produksi peternak.

Asep meminta pemerintah menjamin ketersediaan jagung dengan harga terjangkau dan mutu yang sesuai dengan standar industri pakan.

Menurutnya, persoalan pasokan dan harga jagung yang tidak segera ditangani berisiko memperpanjang tekanan terhadap industri pakan. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan harga pokok produksi peternak dan memengaruhi kualitas pakan.

Permindo, yang memiliki 180 anggota peternak mandiri, meminta pemerintah dan pelaku industri mengambil langkah konkret untuk memperbaiki keseimbangan pasar ayam hidup dan pakan.

Bagi peternak mandiri, pemulihan harga jual menjadi penting karena kerugian yang berkelanjutan dapat mengurangi modal untuk pembelian bibit, pakan, dan kebutuhan produksi pada periode berikutnya.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Rp3 Triliun untuk Perkuat Fondasi Industri Ayam Nasional

Baca Juga: Tanggapi Rencana Aksi Peternak, Mentan Buka Pintu Lebar-Lebar Tanpa Harus Demo

Baca Juga: OJK Dorong Perbankan Perluas Pembiayaan Peternakan di Jawa Barat

Di sisi lain, ketersediaan jagung dengan harga terjangkau dibutuhkan untuk membantu menahan kenaikan biaya pakan.

Permindo menilai penanganan kedua persoalan tersebut diperlukan agar peternak mandiri tetap dapat berproduksi dan tidak semakin terdesak oleh tingginya biaya operasional serta lemahnya harga jual ayam hidup.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: