Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto buka suara terkait nasib produksi liquefied natural gas (LNG) dari PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) setelah kontrak dengan pembeli jangka panjang (long-term buyer) berakhir pada 2027.
Sebagaimana diketahui, DSLNG saat ini memiliki kontrak jangka panjang dengan sejumlah perusahaan energi asal Jepang dan Korea Selatan, yakni JERA, Kyushu Electric Power Co., Inc., serta Korea Gas Corporation (KOGAS). Kontrak tersebut dijadwalkan berakhir pada Desember 2027.
Djoko menyebut, setelah kontrak ekspor tersebut berakhir, seluruh alokasi LNG DSLNG akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
“Untuk berikutnya, 100% untuk dalam negeri komitmennya,” ujar Djoko di sela-sela peresmian kilang LPG milik ENP dan penyaluran Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Karawang, dikutip Senin (19/10/2026).
Meski demikian, Djoko menjelaskan bahwa pada 2025 dan 2026, sebagian alokasi LNG Donggi Senoro yang seharusnya diekspor sempat dipinjam sementara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Volume LNG yang dialihkan tersebut nantinya akan diganti setelah 2028.
“Nah, kemarin kan tahun lalu sama tahun ini kita minjam, minjam dalam artian yang kita ekspor, ternyata sempat kekurangan dalam negeri. Nah, nanti kita ganti setelah 2028,” jelasnya.
Lanjut Djoko, setelah volume LNG yang dialihkan tersebut diganti, seluruh alokasi LNG Donggi Senoro akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
“Kalau kita sudah mengganti yang kita pinjam dulu, maka (selanjutnya) 100% dalam negeri,” katanya seraya menambahkan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT PLN (Persero) akan menjadi penyerapnya
Sementara itu, Plant Deputy General Manager PT Donggi Senoro LNG, Sugianto Darsani, mengatakan perusahaan mulai menyusun strategi pemasaran LNG untuk periode berikutnya seiring dengan berakhirnya kontrak jangka panjang bersama pembeli eksisting pada Desember 2027.
Perusahaan menargetkan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai arah kerja sama baru pada Desember 2026.
“Pembahasannya sudah ada, sudah ada gambarannya di Desember tahun ini,” ujar Sugianto saat ditemui di fasilitas kilang DSLNG, Banggai, Sulawesi Tengah, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, DSLNG masih membuka berbagai opsi dalam strategi pemasaran LNG ke depan. Selain mempertimbangkan perpanjangan kontrak dengan pembeli yang sudah ada, perusahaan juga tidak menutup kemungkinan menjajaki pasar baru.
“Bisa existing buyer, bisa nambah, bisa yang lain juga nanti tergantung. Yang penting buyernya ada,” katanya.
Saat ini, DSLNG memiliki kapasitas pengolahan LNG sebesar 2,1 juta ton per tahun (million tonnes per annum/MTPA), dengan kapasitas pengolahan gas mencapai 335 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).
Pasokan gas tersebut berasal dari sejumlah lapangan produksi. Lapangan Senoro menjadi pemasok utama dengan kontribusi sekitar 317 MMSCFD, yang dikelola melalui Joint Operating Body (JOB) yang terdiri atas PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi, PT Medco E&P Tomori Sulawesi, dan Tomori E&P Ltd.
Sementara itu, pasokan dari Lapangan Donggi dan Matindok mencapai sekitar 85 MMSCFD. Gas tersebut dikelola oleh PT Pertamina EP melalui Proyek Pengembangan Gas Matindok.
Peluang Tambah Kapasitas Kilang
Seiring dengan potensi tambahan pasokan gas dari lapangan pemasok DSLNG, perusahaan juga melihat peluang untuk meningkatkan kapasitas pengolahan kilang pada masa mendatang.
Tambahan pasokan gas tersebut diperkirakan mencapai sekitar 100 MMSCFD.
“Tidak seluruhnya perlu satu train baru. Ada peralatan kita yang masih mampu. Yang dibutuhkan nanti penambahan tangki dan kompresor,” jelas Sugianto.
Menurutnya, pendekatan tersebut dinilai lebih efisien karena sejumlah fasilitas utama di kilang masih memiliki kapasitas yang memadai, termasuk unit dehidrasi yang berfungsi mengurangi kadar air dalam gas sebelum proses pengolahan.
Meski demikian, rencana peningkatan kapasitas tetap bergantung pada kepastian pasokan gas. Tambahan alokasi tersebut masih menunggu keputusan pemerintah terkait pembagian gas dari sumber yang tersedia.
Baca Juga: Harga Khusus LNG Industri US$13/MMBTU Berlanjut di 2027? Ini Kata ESDM
Baca Juga: Pertamina Lubricants Pasok 12.000 Barel Drilling Fluid ke BP Tangguh LNG
Sugianto memperkirakan penetapan alokasi gas baru akan berlangsung pada 2028. Jika tambahan pasokan terealisasi, DSLNG menyatakan siap meningkatkan kapasitas pengolahan sesuai dengan volume gas yang dialokasikan.
“2028 itu pembagian gasnya kan belum dari pemerintah. Jadi kalau memang nanti dinaikkan, kemudian naik 100 atau 70 dari yang sekarang, kita siap,” tutupnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra