Mantan Mendag Muhammad Lutfi Sebut Singapura 'Mainkan' Kejatuhan Bursa Indonesia, Bos BEI Justru Bantah
Kredit Foto: Kementerian Perdagangan
Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menduga adanya tekanan dari institusi investasi Singapura di balik opsi Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Lutfi menyebut Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) memiliki pengaruh besar terhadap MSCI. Ia juga mengklaim mendapat informasi bahwa Rachel Goh dari GIC menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia.
Menurut Lutfi, langkah tersebut diduga bertujuan memicu kepanikan di pasar saham Indonesia. Dengan harga saham yang turun, investor asing dinilai berpeluang kembali membeli aset Indonesia dengan harga lebih rendah.
Lutfi menyampaikan dugaan tersebut melalui akun Instagram pribadinya, Selasa (20/10/2026). Ia mempertanyakan alasan Indonesia berpotensi masuk kategori Standalone Market, yang menurutnya berkaitan dengan negara yang menerapkan pembatasan arus modal atau capital control.
Ia menilai Indonesia tidak menerapkan kebijakan tersebut sehingga mempertanyakan dasar opsi penurunan klasifikasi pasar modal nasional.
Lutfi juga menduga persoalan transparansi sejumlah emiten konglomerasi di Indonesia hanya menjadi alasan di balik ancaman perubahan status tersebut. Ia mengaitkannya dengan kemungkinan kepentingan investor asing untuk membeli kembali saham Indonesia pada harga lebih rendah.
Menurut Lutfi, keluarnya sekitar 80 persen dana asing dari pasar Indonesia sebelumnya belum membuat harga saham turun sesuai harapan investor asing. Ia menduga ancaman perubahan klasifikasi dapat memicu tekanan jual dan membuka peluang pembelian saham pada harga diskon.
View this post on Instagram
Meski demikian, dugaan mengenai keterlibatan Temasek, GIC, dan Rachel Goh tersebut merupakan klaim Lutfi. Uraian yang disampaikan tidak memuat bukti independen yang mengonfirmasi adanya tekanan terhadap MSCI.
Baca Juga: BEI: Status Saham HSC Tak Otomatis Melanggar Hukum
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya tetap meyakini penyedia indeks global bekerja secara independen.
Jeffrey mengatakan BEI memilih berfokus pada langkah teknis untuk merespons opsi perubahan klasifikasi yang disampaikan MSCI, termasuk pembenahan pasar modal Indonesia.
Menurut dia, reformasi pasar modal menjadi perhatian utama BEI dalam menghadapi persoalan tersebut.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: