Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IEA Ungkap Potensi Tambahan Pasokan 200 BCM Gas dari Mitigasi Metana

IEA Ungkap Potensi Tambahan Pasokan 200 BCM Gas dari Mitigasi Metana Kredit Foto: Kementerian ESDM
Warta Ekonomi, Sanur, Bali -

International Energy Agency (IEA) mengungkapkan pengurangan emisi metana dari operasi minyak dan gas bumi (migas) serta penghentian pembakaran gas suar (flaring) non-darurat berpotensi membuka tambahan pasokan hampir 200 miliar meter kubik (billion cubic metres/BCM) gas per tahun di pasar global.

Penasihat Hukum dan Analis Regulasi IEA, Sadhika Gulati, mengatakan potensi tersebut berasal dari dua upaya, yakni pengurangan emisi metana dari operasi migas dan penghentian flaring non-darurat. Masing-masing diperkirakan dapat menyediakan hampir 100 BCM gas per tahun.

Menurut Sadhika, pengurangan emisi metana juga berpeluang memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan karena biaya mitigasi dalam banyak kasus lebih rendah dibandingkan nilai gas yang berhasil dipulihkan.

"Faktanya, sebagian besar pengurangan emisi metana dapat dilakukan tanpa menimbulkan biaya bersih tambahan bagi operator," ujar Sadhika dalam acara 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Bali, Senin (26/10/2026).

Berdasarkan paparan IEA, lebih dari 35 juta ton metana atau sekitar 30% dari total emisi metana global pada 2025 berpotensi dikurangi tanpa biaya bersih tambahan. Pengurangan ini dimungkinkan ketika biaya mitigasi lebih rendah dibandingkan nilai gas yang dapat ditangkap, dimanfaatkan, atau dijual.

Di kawasan ASEAN, sekitar 72% emisi metana dari sektor migas berpotensi dikurangi menggunakan teknologi yang tersedia. Sekitar 60% dari emisi tersebut bahkan dapat ditekan tanpa biaya bersih tambahan.

Potensi pemulihan gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan operasi hulu migas, termasuk di lapangan yang telah menua (mature field) dan mengalami penurunan produksi secara alami. Gas yang sebelumnya terbuang dapat digunakan untuk kebutuhan operasional atau dijual.

Sejumlah langkah yang dapat diterapkan antara lain program Leak Detection and Repair (LDAR) untuk mendeteksi dan memperbaiki kebocoran, penangkapan gas ikutan (associated gas), serta pengurangan pembakaran gas suar.

Di sisi lain, emisi metana dari kegiatan produksi bahan bakar fosil masih menjadi tantangan global. Sadhika menyebut sektor tersebut menyumbang porsi besar emisi metana yang berasal dari aktivitas manusia, sementara emisinya belum menunjukkan tren penurunan.

"Sektor bahan bakar fosil menyumbang 35% dari emisi metana yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Berdasarkan estimasi terbaru kami, belum terlihat adanya tanda-tanda bahwa emisi metana dari kegiatan operasional bahan bakar fosil mengalami penurunan secara global," paparnya.

IEA juga mencatat produksi minyak, gas, dan batu bara global mencapai rekor tertinggi pada 2025. Pada periode yang sama, emisi metana dari kegiatan produksi bahan bakar fosil masih berada di dekat rekor tertingginya, yakni sekitar 125 juta ton per tahun.

Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Kaji Teknologi Distribusi Gas Bersama Mitra Jepang

Baca Juga: Genjot Ketahanan Energi, Elnusa Garap Proyek Seismik 2D Gerbera

Pengelolaan emisi metana juga semakin relevan bagi daya saing perusahaan dalam perdagangan energi internasional. Lebih dari 40% minyak dunia serta 25% gas alam dan batu bara diperdagangkan lintas negara. Uni Eropa pun menetapkan persyaratan intensitas metana untuk impor minyak, gas, dan batu bara mulai 2030.

Sadhika menegaskan, pengurangan emisi metana bukan hanya berkaitan dengan target lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi bisnis dan ketahanan energi.

"Namun, masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk benar-benar mendorong pengurangan emisi. Jelas pula bahwa terdapat alasan bisnis yang kuat untuk melaksanakan upaya tersebut," tutupnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra