Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mati Listrik 2 Jam Bisa Bikin Inalum Rugi Ratusan Ribu Dolar

Mati Listrik 2 Jam Bisa Bikin Inalum Rugi Ratusan Ribu Dolar Kredit Foto: Khairunnisak Lubis
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengungkap tantangan besar dalam operasional smelter aluminium, yakni kebutuhan listrik yang harus stabil sepanjang waktu. Gangguan pasokan listrik dalam proses produksi tidak hanya menghambat operasional, tetapi juga berisiko menimbulkan kerusakan pada fasilitas produksi.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum Arif Haendra mengatakan smelter aluminium memiliki karakteristik berbeda dibanding industri lain karena proses produksinya sangat bergantung pada kontinuitas listrik.

"Smelter itu tidak mengizinkan listrik mati lebih dari 2 jam. Kalau mati satu pot itu membutuhkan 200.000 dolar untuk perbaikan," ujar Arif di Jakarta, dikutip Kamis (8/10/2026).

Menurut Arif, dalam satu rangkaian produksi aluminium terdapat 510 pot yang membutuhkan pasokan listrik secara terus-menerus. Karena itu, perusahaan tidak bisa menggunakan sumber listrik yang tidak memiliki kepastian pasokan.

"Jadi tidak mungkin kita menggunakan listrik yang hidup mati hidup mati," katanya.

Arif menjelaskan, untuk smelter aluminium dengan kapasitas 600 ribu ton, kebutuhan listrik mencapai sekitar 1 gigawatt (GW). Sistem pasokan juga harus memenuhi standar N-1, yakni tetap tersedia cadangan listrik ketika salah satu sumber mengalami gangguan.

"Oleh karena itu harus selalu ada 1 PLTU yang standby. Bayangkan men-standby-kan PLTU 350 megawatt yang setiap saat itu hangat. Sehingga pada saat terjadi kekurangan listrik ini bisa on," ujar Arif.

Kebutuhan listrik tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan Inalum dalam pengembangan proyek smelter aluminium, termasuk rencana pembangunan fasilitas baru di Mempawah, Kalimantan Barat.

Arif mengatakan apabila perusahaan membangun pembangkit listrik sendiri, kebutuhan investasi akan meningkat signifikan. Untuk kapasitas sekitar 1,4 GW, investasi pembangkit diperkirakan mencapai US$2 miliar.

"Artinya investasinya akan membengkak dari 2,7 menjadi 4,7. Sehingga IRR-nya itu akan turun," kata Arif.

Selain kebutuhan investasi, Inalum juga menyoroti tantangan regulasi dalam penyediaan listrik. Perusahaan berharap ada fleksibilitas aturan agar perusahaan dalam satu grup BUMN dapat membangun atau menyediakan listrik untuk mendukung proyek strategis.

Baca Juga: Inalum Buka Suara soal Rencana Akuisisi Tambang Bauksit Antam

Baca Juga: Tancapkan Kuku di Pasar Global, Inalum Perkenalkan Low Carbon Aluminium

"Kita berharap ada regulasi yang PSN misalnya dalam 1 grup BUMN boleh membangun dengan seolah-olah IUPTLS. Dengan grup terafiliasi. Tapi belum diakomodir oleh peraturan yang ada," tutup Arif.

Sebelumnya, Inalum juga tengah mengembangkan rantai hilirisasi aluminium melalui pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 2 dan rencana pembangunan smelter aluminium berkapasitas 600 ribu ton per tahun dengan nilai investasi sekitar US$2,7 miliar.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra