Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Data Bloomberg mencatat rupiah berada di level Rp18.135 per dolar AS pada Senin (26/10/2026) pukul 07.55, melemah 0,30% dibandingkan penutupan sebelumnya Rp18.080.
Pelemahan rupiah dalam setahun terakhir mencapai 9,11%. Sementara itu, secara tahun berjalan, rupiah tercatat melemah 8,72%.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang Indonesia masih berlanjut di tengah dinamika pasar valuta asing global.
Tercatat, rentang pergerakan rupiah selama 52 minggu terakhir berada di level Rp16.566 hingga Rp18.209 per dolar AS. Posisi Rp18.135 membuat rupiah berada dekat dengan batas atas rentang tersebut.
Pada perdagangan Senin, rupiah bergerak menguatkan nilai dolar AS hingga berada di atas Rp18.100. Data pasar yang dikutip Bloomberg pada hari yang sama menunjukkan dolar AS sempat menyentuh Rp18.129 pada pukul 13.42 WIB.
Tekanan terhadap rupiah, terjadi ketika pasar global mencermati arah kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik. Perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset dolar serta pergerakan modal di pasar negara berkembang.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp18.137 per Dolar AS pada Selasa Pagi
Baca Juga: Awal Pekan, Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp18.050 per USD
Sebelumnya, Bank Indonesia menyatakan stabilitas rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS, serta sentimen investor asing di pasar saham.
Dengan pergerakan yang masih rentan, perkembangan dolar AS dan arus modal asing menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati untuk melihat arah nilai tukar rupiah selanjutnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: