Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.147 per Dolar AS, Dibayangi Konflik AS-Iran hingga Isu Politik
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp18.14, melemah 10 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.137.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal maupun domestik. Dari luar negeri, pasar kembali bergejolak setelah muncul laporan mengenai pembahasan opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran di Gedung Putih.
Perkembangan tersebut memudarkan harapan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ketegangan geopolitik Timur Tengah pun berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global dan memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi AS. Inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat tumbuh 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan. Sementara pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III mencapai 3,4%, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,2%.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti ketidakpastian politik di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar sejak awal Oktober. Menurutnya, stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional.
"Apabila ketegangan politik dapat dikelola dengan baik, kepercayaan investor diharapkan dapat kembali pulih. Sebaliknya, jika situasi terus berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, IHSG, investasi, dan perekonomian Indonesia berpotensi semakin besar," jelasnya.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp18.127 per Dolar AS
Baca Juga: Adik Prabowo Sebut Rupiah Bisa Tembus Rp21.000, Kritikus Wanti-wanti Malapetaka Ekonomi RI
Tak hanya itu, kekhawatiran inflasi juga meningkat menjelang pengumuman data inflasi Oktober pekan depan. Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dinilai berpotensi meningkatkan biaya produksi serta harga barang, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: