Unggul Tipis Tanpa Kursi Mayoritas, Netanyahu Terancam Digulingkan Koalisi Lawan!
Kredit Foto: Istimewa
Peta politik Israel memanas setelah hasil sementara pemilu menunjukkan blok pendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum mampu mengamankan mayoritas di parlemen. Meski unggul dalam proyeksi terbaru, kubu Netanyahu dan oposisi masih harus menghadapi negosiasi panjang untuk membentuk pemerintahan baru.
Data yang dirilis Komite Pemilihan Umum dan dilaporkan Times of Israel menunjukkan blok pendukung Netanyahu diproyeksikan meraih 55 kursi setelah 57,3 persen suara dihitung. Sementara itu, blok anti-Netanyahu yang dipimpin Gadi Eisenkot diperkirakan memperoleh 49 kursi.
Proyeksi tersebut berubah dari hasil awal yang sempat memperlihatkan keunggulan tipis oposisi. Partai Likud pimpinan Netanyahu juga diperkirakan mengantongi 27 kursi, meningkat dari perkiraan sebelumnya sebanyak 25 kursi.
Namun, tidak satu pun dari tiga stasiun televisi nasional Israel memperkirakan ada kubu yang mampu mencapai 61 kursi, batas mayoritas dari total 120 kursi Knesset. Kedua kelompok pun berpotensi menghadapi dilema karena opsi bekerja sama dengan blok Arab sebelumnya telah ditolak oleh Netanyahu maupun Eisenkot.
Netanyahu tetap bertekad membentuk pemerintahan sayap kanan. Dalam pidato di hadapan pendukungnya pada Rabu (28/10) dini hari, ia meminta publik menunggu hasil resmi dan menegaskan bahwa Likud merupakan partai terbesar di Israel.
"Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat," ujar Netanyahu. Ia juga menyebut Israel memiliki "kesempatan unik" bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri ancaman Iran yang diklaimnya.
Di kubu oposisi, Eisenkot justru mendesak Netanyahu mundur karena hasil pemilu dinilainya mencerminkan hilangnya dukungan rakyat terhadap koalisi pemerintah. Ia menyebut hasil tersebut sebagai catatan sejarah dan menegaskan masyarakat Israel tidak lagi menginginkan Netanyahu memimpin pemerintahan.
Eisenkot juga memperingatkan Netanyahu agar tidak mengambil keputusan besar terkait keamanan atau memulai perang baru demi kepentingan politik. "Netanyahu, jangan berani-berani menggunakan keamanan Israel demi kepentingan politikmu," tegasnya.
Di luar persaingan dua kubu utama, tingginya partisipasi pemilih turut menjadi perhatian. Hingga pukul 18.00 waktu setempat pada Selasa (27/10), tingkat partisipasi mencapai 66,7 persen, angka tertinggi pada jam tersebut sejak pencatatan serupa dimulai pada 1973.
Partisipasi tinggi berpotensi menyulitkan partai-partai kecil untuk melewati ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen. Dua partai yang disebut berada di sekitar batas tersebut adalah Amcha Israel pimpinan mantan komandan militer Ofer Winter dan Partai Reservis, yang belum menyatakan dukungan kepada salah satu kubu utama.
Sementara itu, Partai Ra'am yang diperkirakan meraih tujuh kursi berpotensi menjadi penentu dalam pembentukan pemerintahan berikutnya. Meski sebelumnya ditolak oleh Netanyahu dan sebagian besar oposisi sebagai mitra koalisi, hasil pemilu bisa memaksa kedua kubu mempertimbangkan bentuk kerja sama demi memperoleh dukungan mayoritas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: