Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Tak Mungkin, Rupiah Berpotensi Cetak Rekor Terburuk ke Rp18.500

Bukan Tak Mungkin, Rupiah Berpotensi Cetak Rekor Terburuk ke Rp18.500 Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah berpotensi kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah di tengah tekanan pasar keuangan global dan domestik. Pada perdagangan 28 Oktober 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp18.184 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati rekor pelemahan di kisaran Rp18.190 yang tercatat pada Juni 2026. 

Chief Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai risiko rupiah kembali mencetak rekor terlemah cukup besar. Apabila tekanan dari pasar global dan domestik berlanjut, rupiah berpotensi menembus level Rp18.200 per dolar AS. 

"Dalam skenario tekanan yang lebih berat, rupiah bahkan berpotensi menguji kisaran Rp18.300 hingga Rp18.500 per dolar AS. Namun, rentang tersebut merupakan skenario bersyarat, bukan kepastian pergerakan nilai tukar ke depan," ujar Josua dalam wawancara, Rabu (28/10/2026). 

Josua menilai, dari sisi tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, konflik Timur Tengah mempertahankan harga minyak Brent di atas US$115 per barel. Sementara itu, ekspektasi kebijakan moneter AS yang tetap ketat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke sekitar 5%. 

Kondisi tersebut, meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan mendorong investor global mengurangi penempatan dana di negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, ketidakpastian terkait potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan sentimen investor. 

"Tekanan dapat semakin besar apabila harga minyak terus meningkat, imbal hasil obligasi AS bertahan tinggi, dan arus keluar modal asing berlanjut. Dalam kondisi tersebut, permintaan dolar untuk kebutuhan impor, pembayaran kewajiban luar negeri, serta transaksi korporasi juga dapat menambah tekanan terhadap rupiah," sorot josua dalam penjelasannya. 

Meski demikian, Josua menegaskan bahwa pelemahan rupiah hingga menembus rekor terendah tidak otomatis menandakan Indonesia mengalami krisis ekonomi atau krisis nilai tukar. Indonesia masih memiliki cadangan devisa sekitar US$146,3 miliar, setara dengan 5,3 bulan impor. 

Baca Juga: Rupiah Makin Terpuruk, BI Beberkan Penyebabnya

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp18.184 per USD, Tertekan Harga Minyak dan Isu MSCI

Risiko yang perlu diwaspadai adalah apabila depresiasi berlangsung terus-menerus hingga mengganggu ekspektasi inflasi, kepercayaan investor, dan stabilitas pembiayaan ekonomi. 

Pelemahan berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan biaya impor yang kemudian menekan harga barang dan jasa serta daya beli masyarakat.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra