Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekonom Wanti-wanti Risiko Pembentukan DSI Terhadap Investasi Asing

Ekonom Wanti-wanti Risiko Pembentukan DSI Terhadap Investasi Asing Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pembentukan badan ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) oleh pemerintah dinilai memiliki manfaat dalam meningkatkan penerimaan negara, namun perlu diimplementasikan secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap iklim investasi, khususnya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, mengatakan DSI berpotensi memengaruhi persepsi investor asing apabila kebijakan turunan tidak dirancang dengan baik. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan bahwa upaya meningkatkan penerimaan negara tidak mengorbankan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.

"Tapi jangan sampai side efeknya bisa menurunkan investasi dari asing, khususnya investasi untuk mendukung hilirisasi pertambangan," kata Josua dalam Media Briefing di Makassar, dikutip Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa investasi asing memiliki peran penting di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, industri hilirisasi hingga jasa. Oleh karena itu, kebijakan yang diterapkan perlu tetap mempertimbangkan kepentingan investor.

“Jadi kita tidak bisa, kita perlu mendorong kebijakan yang juga ramah investasi dan tentunya tadi kita perlu kebijakan-kebijakan yang di satu sisi bisa meningkatkan penerimaan tapi juga tetap menjaga iklim investasi, khususnya investasi asing,” jelasnya. 

Ia menyampaikan, tujuan utama pembentukan DSI adalah untuk menekan praktik underinvoicing atau pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara, terutama dari sisi perpajakan.

Namun, ia menilai dampak kebijakan tersebut terhadap peningkatan volume ekspor nasional relatif terbatas karena fokus utamanya bukan untuk mendorong ekspor secara langsung.

"Dampaknya kepada peningkatan ekspor ini relatif kecil karena kan semangat utamanya adalah untuk bisa meningkatkan penerimaan, khususnya penerimaan perpajakan ya," tuturnya. 

Lebih lanjut, Josua mengungkapkan bahwa kekhawatiran terkait dampak kebijakan terhadap investasi juga telah disampaikan oleh kalangan pelaku usaha. Ia menyinggung adanya masukan dan keluhan dari Kamar Dagang dan Industri China yang telah disampaikan kepada pemerintah.

Baca Juga: Kunci Devisa SDA Lewat DSI, INDEF Nilai Ekspor Satu Pintu Matikan Ruang Gelap 'Misinvoicing'

Baca Juga: 5 Hal Penting tentang PT DSI: Strategi Baru Pemerintah Benahi Tata Kelola Ekspor Kekayaan Alam

"Sehingga itu pun juga perlu kita respon bahwa FDI ini juga masih menjadi salah satu dorongan ataupun masih memiliki kontribusi bukan hanya terhadap investasi dan juga berdampak kepada perekonomian," terangnya.

Josua menegaskan bahwa Indonesia masih membutuhkan dukungan investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan pemerintah.

"Karena jangan lupa juga untuk kita bisa mencapai 8% (pertumbuhan ekonomi) di 2029, kita masih memerlukan investasi, baik investasi domestik dan juga investasi FDI," pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra