Kredit Foto: Istimewa
Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto menilai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih berpotensi menguntungkan konglomerat sekaligus mengancam keberlangsungan warung kelontong di pedesaan.
Menurut Gigin, produk yang dijual di Kopdes dan warung kelontong memiliki kesamaan. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat usaha kecil milik masyarakat desa kalah bersaing dengan program pemerintah tersebut.
"Kebangkrutan massal warung kelontong akan terjadi di pedesaan bila Kopdes terwujud 100% karena jualannya sama," tulis Gigin di akun X pribadinya, dikutip Kamis (29/10).
"Ini harus dicegah karena sangat menguntungkan para konglomerat. Mereka cukup teken kontrak dengan Agrinas untuk menebar dagangannya sampai pelosok dan tanpa saingan," jelasnya..
Sebagai informasi, Kopdes Merah Putih merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Hingga Oktober 2026, program tersebut belum sepenuhnya beroperasi secara fisik di lapangan, meskipun proses pembentukan badan hukumnya telah berjalan secara luas.
Baca Juga: Soal Wacana BPJS Kesehatan Diganti Klinik Kopdes, Guntur Romli: KDMP Sudah Seperti ‘Vampir’
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan per Oktober 2026, sebanyak 83.363 unit Kopdes telah terdaftar secara hukum atau berbadan hukum. Namun, baru sekitar 28.240 lokasi bangunan fisik atau gudang yang selesai dibangun 100%, sedangkan 7.392 lokasi lainnya masih dalam tahap konstruksi.
Sementara itu, sebanyak 79.733 unit telah terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (SIMKOPDES), dan 60.854 unit telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB)
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya