Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Klaim Investor Asing Suka Sekali dengan IHSG: Di Amerika Itu Terlalu Berisiko

BI Klaim Investor Asing Suka Sekali dengan IHSG: Di Amerika Itu Terlalu Berisiko Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ancaman Morgan Stanley Capital International (MSCI) ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang membuka opsi penurunan kelas pasar saham lokal ternyata tak sepenuhnya dikehendaki oleh investor asing. Hal ini diungkapkan oleh Bank Indonesia (BI).

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mematahkan pesimisme tersebut dengan mengeklaim bahwa para investor kakap global sesungguhnya sangat menyukai IHSG. Ia mengklaim justru investor asing menyayangkan wacana sentimen negatif dari MSCI.

Baca Juga: BI Balas Peringatan Keras Adik Prabowo: Tak Perlu Panik, Fundamental Ekonomi Indonesia Relatif 'Oke'

Destry mengatakan dirinya turun gunung menemui sejumlah petinggi lembaga pengelola investasi berskala global. Salah satu bos bank asing raksasa yang mengelola portofolio fantastis secara terang-terangan mengaku menjadikan tanah air sebagai opsi utama karena pasar saham di negara maju dinilai layaknya bom waktu.

"Dia sangat menyayangkan itu (wacana MSCI). Karena dia bilang, 'Saya suka sekali dengan Indonesia. Sekarang saya mau investasi di mana lagi? Di Amerika itu terlalu berisiko'," ungkap Destry dikutip Jumat (30/10/2026).

Menurut Destry, ketakutan investor global terhadap pasar raksasa sekelas wall street sangat beralasan. Ia membeberkan bahwa kapitalisasi pasar saham negara tersebut saat ini telah membengkak secara tidak wajar hingga 2,4 kali lipat dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Bursa Amerika Serikat juga menurutnya terlampau didominasi oleh saham-saham sektor teknologi yang harganya terus digoreng naik (bubble), sehingga memicu kekhawatiran pecahnya gelembung pasar sewaktu-waktu.

Adapun Bursa Eropa juga tak lagi dilirik sebagai tempat berlindung (safe haven) lantaran tengah sekarat dililit rasio utang tinggi dan defisit anggaran yang terus melebar.

Indonesia di sisi lain justru tampil sebagai primadona di Asia. Fundamental ekonomi tanah air diklaim jauh lebih seksi di mata asing berkat pertumbuhan ekonomi yang stabil di level 5 persen, inflasi jinak di kisaran 2,5±1 persen, serta defisit fiskal yang dijaga ketat di bawah 3 persen.

Kesehatan fiskal negara yang memiliki rasio utang 41 persen ini bahkan berhasil mempermalukan negara-negara tetangga. Destry membandingkan rapor merah dari Malaysia (65,3%), Filipina (63,2%) dan Thailand (65,6%).

BI sendiri memastikan seluruh otoritas keuangan negara telah merapatkan barisan guna menghadapi ancaman downgrade dari MSCI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung merespons dengan eksekusi langkah strategis. Sementara Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) intens melakukan konsolidasi pertahanan.

Baca Juga: Pengusaha Dag-Dig-Dug, Kadin Harap Ketegangan Diplomatik Indonesia-Singapura Segera Berakhir

"Kita juga bersama-sama berusaha untuk menenangkan para investor global, paling tidak menunjukkan bahwa secara fundamental kita oke," tegas Destry.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar