Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gara-Gara Kabut Asap Kiriman Indonesia, Warga Singapura Sampai Lari di Dalam Mal

Gara-Gara Kabut Asap Kiriman Indonesia, Warga Singapura Sampai Lari di Dalam Mal Kredit Foto: Reuters/Dawn Chua
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memaksa para pelari di Singapura mencari alternatif tempat latihan. Sejumlah penggemar olahraga lari kini memanfaatkan koridor pusat perbelanjaan Marina Square sebagai lintasan sementara untuk menjaga kebugaran.

Kualitas udara di Singapura memburuk dalam beberapa pekan terakhir akibat asap yang terbawa angin dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan serta Sumatera. Kondisi tersebut disebut sebagai yang terburuk dalam lebih dari satu dekade dan membuat sejumlah kegiatan olahraga luar ruangan dibatalkan.

Pada Sabtu (24/10/2026), lebih dari 80 pelari memadati koridor di dua lantai Marina Square sebelum pusat perbelanjaan itu dibuka. Mereka harus mengikuti aturan ketat agar aktivitas latihan tidak mengganggu operasional mal.

“Tidak boleh berlari cepat, menyalip pelari lain, berteriak, atau membuat keributan,” kata pendiri Singapore Runners Club, Eugene Beh (52), kepada sekitar 60 anggota sebelum latihan dimulai, dikutip dari AFP.

Para peserta juga dilarang meludah atau mengelap keringat di lantai. Beh mengatakan klubnya terpaksa membatalkan sejumlah sesi latihan di luar ruangan karena kabut asap yang menyelimuti Singapura.

Bagi Angeline Zeng (57), berlari di dalam mal menjadi solusi untuk menjaga persiapan menghadapi kompetisi. Pekerja sektor perbankan itu menyelesaikan 10 putaran dengan jarak sekitar 10 kilometer di Marina Square, menjelang lomba setengah maraton di Taipei dan maraton penuh pada Desember.

“Kami seperti berkata, wah, sama sekali tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi,” ujar Zeng kepada AFP. Ia mengaku lebih nyaman berlari di dalam mal karena adanya pendingin udara, meski mengakui lintasan yang berulang bisa membosankan dan kurang cocok untuk latihan jarak jauh.

Pengalaman serupa dirasakan Doris Tan (42). Meski sempat khawatir akan merasa sesak saat berlari di dalam gedung, ia justru merasa nyaman dengan suhu yang lebih sejuk. Namun, Tan tetap lebih menyukai latihan di luar ruangan.

Sementara itu, Paul Wong (54), pensiunan anggota klub lari X-Run, menyelesaikan 21 putaran dengan jarak sekitar 21 kilometer. Ia tengah mempersiapkan diri menghadapi maraton internasional Singapura dan membutuhkan latihan hingga 80 kilometer setiap pekan.

Baca Juga: Singapura Bertindak soal Kabut Asap Karhutla RI, Prabowo Disebut Harus Belajar

Kabut asap membuat Wong mengubah rutinitasnya. Dalam dua pekan terakhir, ia mengaku telah menempuh hampir 100 kilometer menggunakan treadmill, termasuk satu sesi sejauh 28 kilometer selama dua setengah jam.

“Ini sangat menantang secara mental,” kata Wong. Ia menilai berlari mengelilingi mal terasa lebih menyenangkan dibandingkan terus menggunakan treadmill yang menurutnya seperti berlari di dalam roda hamster.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy