Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak negatif dan volatil pada perdagangan Jumat (30/10/2026), di tengah tekanan jual, arus keluar dana asing, serta ketidakpastian pasar global dan domestik.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai tekanan jual masih mendominasi pergerakan indeks. Meski demikian, peluang penguatan teknikal atau technical rebound tetap terbuka.
“Tekanan jual kembali mendominasi pasar. Meskipun demikian, pola wave (b) mengindikasikan bahwa potensi penurunan indeks masih relatif terbatas,” tulis Nafan dalam riset hariannya.
Secara teknikal, bilang, IHSG membentuk pola long black closing marubozu, yang mencerminkan kuatnya tekanan jual. Indikator Stochastic K-D dan RSI juga memberikan sinyal negatif, sementara volume perdagangan menurun.
Nafan menetapkan level support IHSG di 4.969 dan 4.907, sedangkan resistance berada di 5.246 dan 5.326. Di sisi lain, tekanan arus dana asing masih besar, dengan net foreign sell harian mencapai Rp1,52 triliun dan akumulasi sepanjang tahun sebesar Rp124,68 triliun. Kinerja IHSG secara year to date (YtD) tercatat minus 41,04%.
Dari pasar global, sentimen negatif datang dari meningkatnya keraguan investor terhadap prospek monetisasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Saham Alphabet, induk Google, anjlok sekitar 12,6% setelah laba kuartalannya tidak memenuhi ekspektasi pasar. Kondisi ini membuat investor semakin selektif terhadap perusahaan teknologi dengan belanja modal AI yang besar," ungkap Nafan.
Tekanan juga datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di 3,75%–4,00%. Namun, pertumbuhan ekonomi AS kuartal III sebesar 3,4% dan inflasi PCE September sebesar 3,6% secara tahunan, dengan inflasi inti 3,1%, berpotensi membatasi ruang penurunan suku bunga.
Risiko suku bunga tinggi lebih lama dapat menekan valuasi saham berorientasi pertumbuhan. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,32% menjadi 4,934%, mengindikasikan peralihan dana ke aset yang lebih defensif.
Dari dalam negeri, ketidakpastian evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI dan berlanjutnya arus keluar dana asing menjadi perhatian utama. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai peringatan MSCI sebagai guncangan jangka pendek. Pemulihan pasar dinilai tetap memungkinkan jika persoalan transparansi kepemilikan saham dan aksesibilitas pasar dibenahi.
Baca Juga: BI Klaim Investor Asing Suka Sekali dengan IHSG: Di Amerika Itu Terlalu Berisiko
Baca Juga: Peringatan Keras Hashim Djojohadikusumo: IHSG Hancur dari Dalam, Bukan Karena MSCI
Pelaku pasar juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Meski demikian, penguatan rupiah sebesar 0,32% ke Rp18.132 per dolar AS setelah keputusan The Fed serta stabilnya harga minyak menjadi faktor penahan tekanan indeks.
Menghadapi kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor lebih selektif dengan mengutamakan saham berfundamental solid dan valuasi yang menarik, serta saham yang menunjukkan indikasi pembalikan arah (reversal). Investor juga perlu menerapkan manajemen risiko secara disiplin.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: