Kredit Foto: PT Bukit Asam Tbk
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,41 triliun sepanjang Januari–September 2026. Realisasi tersebut melonjak 216,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun, meskipun pendapatan perusahaan hanya tumbuh 12,4% menjadi Rp35,20 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 September 2026, pertumbuhan laba PTBA terutama ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara sebesar 18% secara tahunan. Penguatan harga jual tersebut mampu mengimbangi penurunan volume penjualan batu bara sebesar 4% menjadi 32,23 juta ton dari sebelumnya 33,70 juta ton.
Kenaikan harga jual turut memperbesar laba kotor perusahaan menjadi Rp7,27 triliun, meningkat 103,8% dibandingkan Rp3,57 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, beban pokok pendapatan relatif terkendali di level Rp27,94 triliun, hanya naik sekitar 0,6% dibandingkan Rp27,76 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Kondisi tersebut mendorong margin laba kotor PTBA meningkat menjadi sekitar 20,6% dari sebelumnya 11,4%. Sejalan dengan itu, laba usaha perusahaan melonjak 220,3% menjadi Rp5,11 triliun, dibandingkan Rp1,60 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi biaya, PTBA menghadapi tekanan kenaikan harga bahan bakar sebesar 36% secara tahunan yang berdampak terhadap kegiatan penambangan dan pengangkutan batu bara. Namun, tekanan tersebut diimbangi oleh penurunan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali, serta berkurangnya volume produksi dan angkutan batu bara masing-masing sebesar 4% dan 10%.
Selain perbaikan kinerja operasional, peningkatan laba juga ditopang oleh penurunan biaya keuangan sebesar 45% menjadi Rp136,52 miliar dari Rp247,93 miliar. Penghasilan keuangan turut meningkat 16% menjadi Rp183,50 miliar. PTBA juga mencatat kenaikan bagian laba bersih dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar 75% menjadi Rp581,31 miliar dibandingkan Rp333,09 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan pertumbuhan kinerja keuangan hingga kuartal III-2026 didukung oleh pemulihan produksi, optimalisasi bauran penjualan, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin.
"Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin," ujar Bambang dalam keterangan resmi perusahaan, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Ekspor Batu Bara PTBA Naik 5%, Penjualan Domestik Justru Turun 12%
Baca Juga: PTBA Siapkan Rencana Produksi Batu Bara 2027, Perkuat Pasokan dan Kepastian Operasional
Secara operasional, PTBA mencatatkan perbaikan kinerja pada kuartal III-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Volume produksi meningkat 17% secara kuartalan, sementara penjualan naik 2%. Harga jual rata-rata batu bara juga mengalami kenaikan 7% secara kuartalan.
Adapun hingga akhir September 2026, PTBA membukukan EBITDA sebesar Rp7,19 triliun, meningkat sekitar 102% dibandingkan Rp3,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan mencatatkan margin EBITDA sebesar 20% dan margin laba bersih sekitar 13%.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: