Kredit Foto: Amman
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membukukan laba bersih sebesar US$880 juta atau sekitar Rp15,96 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Capaian tersebut berbalik dari rugi bersih US$175 juta atau sekitar Rp3,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan laba tersebut ditopang peningkatan produksi dan volume penjualan, terutama dari komoditas tembaga dan emas. Kinerja operasional yang lebih kuat juga didukung stabilitas fasilitas peleburan dan pemurnian serta harga logam yang menguntungkan.
Dalam laporan kinerja kuartal III 2026 yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi, AMMN mencatat penjualan bersih sebesar US$3,238 miliar atau sekitar Rp58,73 triliun. Nilai tersebut meningkat 494% dibandingkan sembilan bulan pertama 2025 yang sebesar US$545 juta atau sekitar Rp9,88 triliun.
Sejalan dengan kenaikan penjualan, EBITDA perseroan mencapai US$1,833 miliar atau sekitar Rp33,25 triliun, melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$279 juta atau sekitar Rp5,06 triliun. Margin EBITDA juga meningkat menjadi 57% dari sebelumnya 51%.
Direktur Keuangan AMMN Anthony Mathias menjelaskan, peningkatan kinerja keuangan tersebut mencerminkan penguatan operasional, pertumbuhan volume penjualan, serta kondisi harga logam yang mendukung.
"Kinerja sembilan bulan pertama 2026 mencerminkan dampak positif dari penguatan kinerja operasional, peningkatan volume penjualan, serta kondisi harga logam yang menguntungkan. Penjualan bersih mencapai US$3.238 juta, meningkat 494% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sehingga mendorong EBITDA menjadi US$1.833 juta dengan margin 57%. Laba bersih meningkat menjadi US$880 juta, setara dengan margin 27%. Sebagai perbandingan, pada 9M 2025, EBITDA tercatat sebesar US$279 juta dengan rugi bersih sebesar US$175 juta," kata Anthony dalam laporan tersebut.
Dari sisi produksi, AMMN mencatat lonjakan produksi emas dalam konsentrat sebesar 616% secara tahunan menjadi 541.337 ons sepanjang Januari–September 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, produksi emas dalam konsentrat tercatat sebanyak 75.621 ons.
Produksi tembaga dalam konsentrat juga meningkat 129% menjadi 332 juta pon, dibandingkan 145 juta pon pada sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, produksi konsentrat tembaga mencapai 580.713 metrik ton kering, naik 87% dari sebelumnya 310.143 metrik ton kering.
Peningkatan tersebut didukung kenaikan volume pengolahan bijih dan kadar mineral yang lebih tinggi. AMMN mengolah 32 juta ton bijih selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 23 juta ton.
Kadar tembaga bijih yang diolah juga meningkat menjadi 0,51% dari sebelumnya 0,35%. Adapun kadar emas naik menjadi 0,62 gram per ton dari 0,12 gram per ton.
"Volume bijih yang diproses meningkat 38% secara tahunan menjadi 32 juta ton, dari 23 juta ton pada sembilan bulan pertama 2025. Peningkatan throughput turut memperkuat efisiensi pengolahan, tercermin dari penurunan biaya pengolahan per unit sebesar 21% menjadi US$4,85 per ton, dari US$6,11 per ton," tulis manajemen dalam laporan.
Selain produksi konsentrat, fasilitas peleburan dan pemurnian AMMN juga mencatat peningkatan output. Produksi katoda tembaga mencapai 102.783 ton atau meningkat 150% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 41.052 ton.
Sementara itu, produksi emas murni mencapai 296.897 ons, melonjak 563% dari sebelumnya 44.792 ons.
Dari sisi penjualan, AMMN membukukan pendapatan sebesar US$1,38 miliar dari katoda tembaga, US$772 juta dari emas murni, serta US$1,085 miliar dari penjualan konsentrat.
Baca Juga: AMMN Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027
Baca Juga: Penjualan ICBP Tembus Rp64 Triliun, Laba Usaha Tumbuh 7%
Kontribusi penjualan konsentrat tersebut berasal antara lain dari realisasi ekspor berdasarkan izin sementara yang berlaku hingga April 2026. Perseroan mencatat penjualan konsentrat tembaga sebanyak 120.079 metrik ton kering, dengan kandungan 73 juta pon tembaga dan 119.307 ons emas.
Direktur Utama AMMN Arief Sidarto menyebut pertumbuhan produksi di seluruh rangkaian operasi terintegrasi perusahaan berlanjut selama kuartal III 2026. Menurutnya, peningkatan kadar bijih dan pelaksanaan operasional yang efektif menjadi faktor pendukung kenaikan produksi.
Dengan peningkatan produksi, penjualan, serta stabilitas operasi smelter dan fasilitas pemurnian, AMMN menyatakan masih berada pada jalur yang tepat untuk mencapai atau melampaui panduan produksi 2026, baik untuk konsentrat maupun logam murni.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: