Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp18.158 per Dolar AS pada Senin Pagi
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tercatat mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah sebesar 11 poin atau 0,06%. Posisi tersebut membawa nilai tukar rupiah berada di level Rp18.158 per dolar AS.
Di sisi lain, pergerakan mata uang dolar AS secara global terpantau mengalami penguatan sebesar 0,03% yang menyentuh level 101.912.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah pada pekan ini akan bergerak pada level Rp18.000 sampai Rp18.320 per dolar AS.
Dia mengatakan pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal maupun domestik. Dari luar negeri, pasar kembali bergejolak setelah muncul laporan mengenai pembahasan opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran di Gedung Putih.
Perkembangan tersebut memudarkan harapan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ketegangan geopolitik Timur Tengah pun berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global dan memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi AS. Inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat tumbuh 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan. Sementara pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III mencapai 3,4%, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,2%.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti ketidakpastian politik di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar sejak awal Oktober. Menurutnya, stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional.
Baca Juga: Gubernur BI Blak-blakan, Rupiah Punya PR Besar di Sektor Ekspor dan Investasi
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp18.127 per Dolar AS
"Apabila ketegangan politik dapat dikelola dengan baik, kepercayaan investor diharapkan dapat kembali pulih. Sebaliknya, jika situasi terus berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, IHSG, investasi, dan perekonomian Indonesia berpotensi semakin besar," jelasnya.
Tak hanya itu, kekhawatiran inflasi juga meningkat menjelang pengumuman data inflasi Oktober pekan depan. Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dinilai berpotensi meningkatkan biaya produksi serta harga barang, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: