Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp18.127 per Dolar AS

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp18.127 per Dolar AS Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot menguat pada awal perdagangan Jumat (30/10/2026). Rupiah dibuka di level Rp18.127 atau menguat 0,06% dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 18.137 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp18.130-Rp18.180. Sedangkan dalam perdagangan pekan ini rupiah diperkirakan pada rentang Rp17.900-Rp18.250.

Ibrahim mengatakan penguatan rupiah hari ini justru dipicu oleh beberapa sentimen dalam negeri. Di mana aksi protes mahasiswa yang semakin marak dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian politik dan mendorong investor bersikap lebih hati-hati.

Di sisi lain, aksi tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyuarakan keresahan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang telah berjalan selama dua tahun. Kritik dan tuntutan yang disampaikan selama ini dinilai belum mendapat tanggapan yang memadai dari pemerintah.

Tekanan terhadap perekonomian juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang berada di atas US$100 per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban subsidi BBM dan energi, sehingga menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Jika ketidakpastian politik dan tingginya harga minyak berlanjut, tekanan terhadap rupiah, inflasi, dan stabilitas ekonomi Indonesia berpotensi semakin besar," kata Ibrahim kepada wartawan.

Baca Juga: Adik Prabowo Sebut Rupiah Bisa Tembus Rp21.000, Kritikus Wanti-wanti Malapetaka Ekonomi RI

Baca Juga: Rupiah Diramal Ambruk Tembus Rp22.000 Per Dolar Jika Hal Buruk Ini Terjadi pada Indonesia!

Selain itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang pengumuman data inflasi Oktober yang dijadwalkan pada pekan depan. Sebelumnya, inflasi pada September tercatat meningkat menjadi 3,28%, mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum.

"Apabila inflasi Oktober kembali meningkat, daya beli masyarakat berpotensi tertekan akibat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari," jelas dia.

Di sisi lain, Bank Indonesia dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk menjaga stabilitas harga. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dan keputusan investasi, seiring pelaku pasar yang cenderung menunggu kejelasan arah perekonomian sebelum mengambil keputusan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: