Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Resiliensi ekonomi Indonesia itu mencengangkan: opini singkat postur ekonomi Indonesia

Oleh: Alexander Yahya Datuk, pengurus KADIN Indonesia

Resiliensi ekonomi Indonesia itu mencengangkan: opini singkat postur ekonomi Indonesia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Resiliensi adalah kata serapan yang diambil dari bahasa Inggris ‘Resilience’. Apa artinya? Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat, cepat pulih, tetap bertahan kuat di saat menghadapi kesulitan, tantangan dan tekanan. 

Selama lebih dari 20 tahun, ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5%, kecuali saat pandemi covid-19. Dalam kurun waktu tersebut berbagai krisis dan guncangan dialami, setelah dihantam krisis ekonomi 1997-1998, ekonomi Indonesia dalam kurun waktu cukup singkat bisa melenting kembali di kisaran 5% 

Tahun 2008 terjadi krisis global yang dikenal dengan krisis ‘subprime mortgage’ atau ‘the credit crunch’. Krisis ini menghantam banyak sekali negara. Namun Indonesia tetap stabil di kisaran 5%, 2008 tumbuh 6%, 2009 tumbuh 4,6% dan 2010 tumbuh 6% kembali. 

Dinamika politik demokrasi, diantaranya kontestasi pemilu yang sering cukup panas, tidak menggoyahkan pertumbuhan tersebut. ‘Keukeuh’ bersikeras di kisaran 5%.

Pandemi covid-19 di tahun 2020 yang dahsyat menghantam keras seluruh dunia termasuk di Indonesia, namun tahun 2021 ketika masih berlangsung pandemi mulai tumbuh ke 3,69% dan tahun 2022 pulih tumbuh 5,31%. 

Itu yang namanya resiliensi, memiliki daya lenting, kemampuan untuk bangkit kembali yang mencengangkan. Atau bahkan hanya sedikit atau tidak sama sekali terpengaruh dari guncangan-guncangan yang ada. Dan tetap bersikeras tumbuh di kisaran 5%.

Dewasa ini Indonesia dihadapkan oleh ketidak pastian global, krisis geopolitik seperti diantaranya perang Ukraina-Russia, Konflik di Teluk, perang dagang AS-Tiongkok. Semua itu memberikan guncangan ekonomi diantaranya krisis energi karena terdisrupsinya rantai pasok migas dan di terapkannya berbagai tarif. Semua itu mulai memuncak sejak 2022 hingga sekarang. Apa yang terjadi dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia? Dari 2022 s/d 2025, tetap tumbuh di 5% lebih. 

Pertumbuhan Indonesia tahun 2026 ini, triwulan I 5,61%, triwulan II 5,29%. Lalu triwulan III bagaimana? Cukup meyakinkan banyak pengamat akan tumbuh antara 5,2 s/d 5,3% lebih. Saya pun cukup yakin dengan itu.

Ada satu hal yang membuat saya semakin yakin. Rilis BPS hari ini mengenai ekspor-impor bulan September melengkapi gambaran perdagangan internasional kita sepanjang triwulan III, yang akan masuk dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi yang diumumkan pada 5 November nanti. Hasilnya, dalam tiga bulan berturut-turut, Juli, Agustus, dan September, neraca perdagangan kita surplus, bahkan September saja mencatat surplus USD 3,36 miliar. Bandingkan dengan triwulan II, ketika neraca perdagangan kita sempat defisit di bulan Mei dan Juni. Dalam kondisi perdagangan yang tertekan seperti itu saja, ekonomi kita masih mampu tumbuh 5,29%. Sekarang perdagangan internasional kita jauh lebih positif dibanding triwulan II. Artinya, komponen ekspor neto, atau (X – M), kini kembali menjadi pendorong pertumbuhan, bukan penahan. Inilah alasan saya optimistis pertumbuhan ekonomi triwulan III dapat mencapai 5,45%, bahkan melampaui proyeksi banyak pengamat.

Lalu kenapa bisa resilien seperti itu?

Banyak alasan. Utamanya pasar domestik yang besar, kekayaan sumber daya alam dan investasi terus berjalan. Selain itu, saya selaku pelaku usaha melihat ada kualitas penting lain yang menjadikan Indonesia resilien. Apa itu?

Dunia bisnis Indonesia itu resilien dan tangguh. Ekonomi Indonesia di topang utamanya dari kinerja sektor privat atau dunia usaha. Kekuatan inovasi-kreatifitas, kemampuan cepat beradaptasi, terasa dalam denyut dinamika bisnis Indonesia, apapun sektornya, apapun skala nya, baik yang besar, menengah, kecil dan mikro. Singkatnya pebisnis Indonesia adalah entrepreneur yang handal. Ini modal besar kita.

Lalu bagaimana postur ekonomi Indonesia hari ini?

Saya tidak akan mengulas panjang lebar, namun saya akan highlight beberapa variabel yang telah membuat ekonomi kita dalam kondisi baik.

Pertama, Investasi terus meningkat. Selama ini penopang utama pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga, namun sekarang ini, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi variabel yang semakin kuat. Artinya pemerintah berhasil membangun iklim investasi yang menarik. Bila ini terus berkembang konsisten, akan membawa kita kepada pertumbuhan yang lebih tinggi lagi.

Hal kedua, krisis geopolitik yang saya sebutkan tadi, justru oleh pemerintah Indonesia berhasil dijadikan peluang. Selama 2 tahun terakhir, dilakukan diplomasi yang sangat aktif kepada semua aktor global yang ada. Politik bebas aktif diterapkan dengan sesungguhnya. Hal ini menimbulkan kenyamanan bagi investasi dan perdagangan di Indonesia dari semua aktor global. Selain itu juga memastikan stabilitas ekonomi bagi Indonesia. Salah satu contoh yang perlu menjadi perhatian, sebentar lagi akan efektif Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement ( IEU CEPA), yang bila dimanfaatkan dengan tepat akan menjadi mesin penggerak investasi dan perdagangan yang signifikan.

Hal ketiga, Upaya keras pemerintah untuk menekan atau menghilangkan ‘grey economy’ yang selama ini tidak tersentuh pengawasan dan pajak. Bila ini bisa di tekan dan dikelola dengan baik, maka akan meningkatkan pendapatan negara dan devisa dengan signifikan, yang lalu bisa digunakan untuk pembangunan dan investasi di dalam negeri. 

Bila merujuk pada target pertumbuhan 8%, maka 3 hal diatas menjadi sangat strategis untuk diterapkan. Peningkatan Investasi, stabilitas dan relasi ekonomi produktif antara banyak negara dan peningkatan pendapatan negara. 

Bila merujuk pada formula Y = C + I + G + (X – M), maka selama ini yang membawa kita konsisten tumbuh di kisaran 5% itu di dominasi variabel C atau Consumption. Namun bila variabel I (investment) dan variabel G (Government Expenditure) meningkat signifikan, maka pertumbuhan akan diatas itu. Opini saya, kita sudah di jalan yang benar. Sebagai penutup, saya mengajak kita menjaga stabilitas ekonomi dan politik. Mari kita menghindari konflik politik dan kepentingan yang akan justru merugikan kita bersama, bangsa Indonesia. Saya yakin bisa, karena kultur gotong royong dan kebersamaan sudah mengakar.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Fajar Sulaiman