Kredit Foto: Kementerian Perekonomian
Aktivitas industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan ada tiga indikator yang memberikan sinyal positif, mulai dari kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI), lonjakan pesanan ekspor baru hingga meningkatnya impor bahan baku dan penolong.
Ketiga indikator tersebut memperlihatkan adanya penguatan dari sisi permintaan maupun kebutuhan produksi industri. Kondisi ini menjadi perhatian karena sektor manufaktur merupakan salah satu kontributor penting terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
PMI manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54 pada Oktober 2026, dari sebelumnya 52,4 pada September. Menurutnya, kenaikan tersebut mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek perekonomian nasional.
"PMI naik ke 54 juga menunjukkan optimisme pasar terhadap perekonomian," kata Airlangga dalam keterangan resmi, Senin (2/11/2026).
Penguatan PMI tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap produk manufaktur. Pesanan ekspor baru bahkan mencatatkan pertumbuhan tercepat sejak survei PMI dimulai pada April 2011. Kenaikan permintaan ini turut mendorong aktivitas produksi manufaktur mencatat pertumbuhan terkuat sejak Maret 2024.
Sinyal kedua terlihat dari meningkatnya impor bahan baku dan penolong yang pada September 2026 tumbuh 24,65% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kenaikan tersebut dapat mengindikasikan kebutuhan industri terhadap input produksi yang semakin besar seiring aktivitas manufaktur yang berkembang.
Tak hanya bahan baku, impor barang modal juga meningkat 1,25% secara tahunan. Peningkatan impor kelompok ini menjadi indikator lain yang perlu dicermati karena berkaitan dengan kebutuhan mesin dan peralatan untuk mendukung kegiatan produksi. Meski demikian, kenaikan impor belum otomatis berarti seluruh kapasitas produksi telah meningkat.
Dari sisi perdagangan, Indonesia juga masih mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US3,36miliarpada September2026.Nilai ekspor mencapai US 27,59 miliar atau tumbuh 11,87% secara tahunan. Kinerja ini memperlihatkan permintaan terhadap produk Indonesia masih memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Airlangga turut menilai kinerja perdagangan Indonesia sepanjang tahun masih positif, sementara inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah.
"Neraca perdagangan 10 bulan baik. Inflasi juga masih dalam taraf 2,5 plus minus 1 persen dan secara year-to-date juga masih baik," ujarnya.
Rangkaian indikator tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas manufaktur sedang berada dalam fase ekspansi. Namun, seberapa besar penguatan tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional masih akan terlihat dari rilis PDB kuartal III-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 November 2026.
Baca Juga: Pusat Finansial Internasional Indonesia Belum Siap Beroperasi, Ini Kata Airlangga
Baca Juga: APBN Cuma 15% dari PDB, Suahasil Ungkap Peran Besar Sektor Swasta dan Masyarakat
“Peningkatan aktivitas manufaktur dan kinerja ekspor menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat investasi, hilirisasi, peningkatan produktivitas, serta perluasan akses pasar. Pada saat yang sama, Pemerintah memastikan inflasi tetap terkendali agar daya beli masyarakat terjaga dan dunia usaha memiliki kepastian dalam menjalankan aktivitasnya. Kita ingin pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditopang oleh peningkatan permintaan, tetapi juga oleh penguatan kapasitas produksi dan daya saing ekonomi nasional,” pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra