Alokasi Belanja Capai 86 Persen, 35 Tahun McDonald’s Indonesia Bermitra dengan Pemasok Lokal
Kredit Foto: McDonald’s Indonesia
McDonald’s Indonesia menyatakan sekitar 86 persen dari total belanja pemasoknya dialokasikan kepada mitra lokal. Selama 35 tahun, perusahaan membangun kemitraan jangka panjang dengan ratusan pemasok di dalam negeri.
Kemitraan tersebut tidak hanya mencakup pembelian bahan baku, tetapi juga peningkatan kapabilitas pemasok melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, dan penerapan standar operasional. Perusahaan menyebut hubungan ini turut menggerakkan rantai ekonomi lokal dan mendukung penciptaan lapangan kerja.
Guru Besar Strategic Management dan Marketing Global Academy Finance Management (GAFM) Amerika, Mochammad Mukti Ali, menilai hubungan jangka panjang antara perusahaan besar dan pemasok lokal dapat menjadi ruang bagi peningkatan kemampuan usaha atau supplier upgrading.
Menurut Mukti, industri restoran cepat saji atau Quick Service Restaurant (QSR) mendorong aktivitas ekonomi lintas sektor. Pemasok tidak hanya memperoleh akses terhadap permintaan, tetapi juga kesempatan untuk mempelajari standar dan praktik operasional yang lebih tinggi.
McDonald’s Indonesia menyebut sekitar 76 persen bahan bakunya dibeli dari mitra dalam negeri, termasuk sayuran, telur, beras, cabai, dan minyak goreng. Seluruh kebutuhan ayam juga dipasok peternak lokal dan dikirim dalam kondisi segar setiap hari ke restoran.
Supply Chain & Quality Assurance Director PT Rekso Nasional Food, Ronni Rombe, mengatakan perusahaan membina ratusan mitra melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, dan kunjungan studi, termasuk ke luar negeri. Pembinaan itu mencakup standar kualitas, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan.
Salah satu pemasok ayam McDonald’s Indonesia adalah PT Ciomas Adisatwa, bagian dari JAPFA Group, yang telah bekerja sama dengan perusahaan selama lebih dari tiga dekade. Head of Production Region Jabar 3 PT Ciomas Adisatwa, Rendhiq Ramadhan, mengatakan standar dan audit berkala menjadi referensi untuk meningkatkan kualitas produksi serta konsistensi penerapan prosedur kerja.
Kemitraan juga dijalankan dengan pemasok yang bermula dari usaha kecil. Made Gunada, petani asal Bali, mulai bekerja sama dengan McDonald’s Indonesia pada 1993. Usahanya yang berawal dari lahan kecil kini berkembang ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta memasok kebutuhan lebih dari 50 persen restoran perusahaan.
Made mengatakan pendampingan teknis dan bantuan peningkatan fasilitas pertanian membantu usahanya memenuhi kuota dan standar kualitas. Perkembangan usaha tersebut juga melibatkan ratusan petani lain dan membuka peluang ekonomi di wilayah tempat mereka bekerja.
Studi independen Oxford Economics untuk periode April 2024 hingga Maret 2025 mencatat aktivitas McDonald’s Indonesia mendukung sekitar 48.700 lapangan kerja di berbagai sektor. Setiap 100 karyawan McDonald’s Indonesia disebut turut mendukung hingga 330 lapangan kerja tambahan, antara lain di bidang pertanian, distribusi, dan jasa pendukung.
Di fasilitas produksi Padahanten Farm milik PT Ciomas Adisatwa di Majalengka, Jawa Barat, terdapat 41 pekerja tetap dan lebih dari 50 pekerja tambahan pada periode tertentu. Sementara itu, fasilitas rumah potong ayam PT Japfa Food Indonesia dapat mempekerjakan sekitar 400 hingga 1.500 orang per fasilitas.
Head of Quality Assurance PT Japfa Food Indonesia, Achmad Novel, mengatakan peningkatan kebutuhan McDonald’s Indonesia turut mendorong pembukaan kesempatan kerja di sekitar fasilitas. Pekerja juga mendapat pemahaman mengenai standar kerja, keamanan pangan, prinsip halalan tayyiban, dan kesejahteraan hewan.
Rangkaian kemitraan tersebut menghubungkan permintaan restoran dengan pemasok, petani, pekerja, logistik, serta usaha lain yang mendukung rantai pasok. McDonald’s Indonesia menyatakan kemitraan dengan pemasok lokal telah berkembang dari pemenuhan bahan baku menjadi hubungan yang membantu meningkatkan kemampuan usaha dan membuka peluang ekonomi di berbagai daerah.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: