Tak Cukup Kejar Efisiensi, OCBC Minta Korporasi Siapkan Strategi Hadapi Krisis
Kredit Foto: Merlina Aryanti
Ketidakpastian geopolitik global membuat perusahaan perlu mengubah cara mengelola rantai pasok. Jika sebelumnya dunia usaha lebih mengutamakan efisiensi dengan menyediakan barang sesuai kebutuhan (just in time), kini perusahaan dinilai perlu menyiapkan cadangan dan alternatif pasokan untuk menghadapi kemungkinan gangguan (just in case).
OCBC Group menilai perubahan strategi ini semakin penting di tengah ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat (AS), konflik geopolitik, hingga perubahan hubungan perdagangan antarnegara. Situasi tersebut dapat mengganggu distribusi barang, ketersediaan bahan baku, serta kelangsungan operasional perusahaan.
Chief Economist & Head of OCBC Group Research, Selena Ling mengatakan kondisi global saat ini menuntut perusahaan untuk tidak bergantung pada satu sumber pasokan atau pasar tertentu. Diversifikasi pemasok, tujuan pasar, dan mitra bisnis menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi gangguan.
Pandangan serupa disampaikan Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole. Menurutnya, perusahaan perlu lebih serius memperhatikan ketahanan rantai pasok dan tidak hanya mengejar efisiensi biaya operasional.
"Bagi korporasi, kita lihat supply chain juga harus dicermati dengan sangat teliti. Bukan sekadar just in time saja, tapi sekarang lebih just in case," ujar Diamond dalam kegiatan OCBC Outlook 2027 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, perusahaan perlu memastikan pemasok dan mitra bisnis yang dipilih benar-benar dapat diandalkan, terutama ketika terjadi gangguan ekonomi maupun geopolitik. Sebab, perubahan situasi global kerap berlangsung di luar kendali pelaku usaha dan sulit diprediksi sejak awal.
Untuk itu, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan satu strategi untuk menghadapi berbagai risiko. Dunia usaha perlu meningkatkan kesiapan dengan menyusun rencana alternatif apabila rantai pasok terganggu.
Baca Juga: OCBC Kelola Dana AUM Rp374 Triliun per Juni 2026
Baca Juga: OCBC Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2% pada Akhir 2026
Selain itu, perusahaan juga perlu melakukan stress testing atau pengujian ketahanan bisnis. Langkah ini dilakukan dengan menyimulasikan berbagai kemungkinan kondisi buruk untuk mengetahui seberapa kuat perusahaan bertahan dan bagian mana yang perlu diperkuat.
Dia menilai kesiapan menghadapi risiko dan kemampuan beradaptasi akan menjadi faktor penting bagi perusahaan yang ingin memperluas bisnis pada 2027.
Terlebih, arah kebijakan perdagangan internasional, pergerakan harga energi, dan perkembangan geopolitik masih menyimpan banyak ketidakpastian.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: