Canva PHK 1.271 Karyawan, Ledakan AI Tekan Bisnis Perusahaan Teknologi
Kredit Foto: Google
Perusahaan teknologi asal Australia, Canva, mengumumkan restrukturisasi besar-besaran yang berdampak terhadap 1.271 karyawan atau sekitar 22% dari total tenaga kerjanya. Langkah ini mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK), relokasi, hingga perubahan posisi karyawan di tengah perlambatan bisnis dan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Mengutip The Sydney Morning Herald pada Rabu (4/11), langkah tersebut menjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pertama yang dilakukan Canva secara menyeluruh sejak perusahaan berdiri 13 tahun lalu.
Co-founder sekaligus CEO Canva, Melanie Perkins, menyebut keputusan tersebut sebagai momen tersulit sepanjang 13 tahun perjalanan perusahaan. Menurutnya, Canva tengah menghadapi tantangan untuk menyesuaikan strategi bisnis dengan perubahan industri teknologi yang semakin cepat.
Dalam pemberitahuan kepada karyawan di 37 negara, Perkins mengatakan pertumbuhan Canva mengalami perlambatan untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir. Di saat bersamaan, perusahaan juga menghadapi peningkatan biaya untuk mengintegrasikan teknologi AI ke dalam berbagai produknya.
"Teknologi baru sedang mengubah apa yang dapat diciptakan orang, bagaimana mereka menciptakannya, dan apa yang mereka harapkan dari produk yang digunakan," tulis Perkins dalam memo internal perusahaan.
Dia mengakui bahwa keputusan restrukturisasi tersebut akan berdampak langsung terhadap kehidupan para karyawan, termasuk keluarga dan rekan kerja mereka.
Canva menyebut sebagian karyawan akan mengalami perubahan tanggung jawab pekerjaan atau diminta pindah ke lokasi kerja yang lebih terpusat. Namun, perusahaan juga harus berpisah dengan sejumlah karyawan yang selama ini berkontribusi dalam membangun bisnisnya.
"Ini merupakan tahun tersulit kami sejauh ini. Untuk mempersiapkan diri menghadapi dekade berikutnya, kami perlu membangun kembali Canva dengan kembali ke akar kami, yakni tim-tim kecil yang memiliki keleluasaan mengambil keputusan, tanggung jawab, dan fokus pada hal-hal yang paling penting bagi komunitas kami," ujar Perkins.
Baca Juga: BMW Hadapi Tekanan Bisnis, Ribuan Karyawan Kena PHK
Melansir AOL, di tengah restrukturisasi tersebut, valuasi Canva juga dilaporkan mengalami penurunan dari sekitar A$60 miliar menjadi A$49 miliar atau sekitar Rp623,86 triliun.
Meski melakukan pengurangan tenaga kerja, Canva menjanjikan sejumlah dukungan bagi 1.271 karyawan yang terdampak keputusan tersebut.
Perusahaan akan memberikan kompensasi setara minimal enam bulan gaji, fasilitas layanan kesehatan selama 12 bulan, termasuk dukungan kesehatan mental, serta pendampingan karier dan bantuan pencarian pekerjaan baru.
Karyawan terdampak juga diperbolehkan mempertahankan laptop perusahaan dan memperoleh akses ke jaringan alumni Canva untuk membantu mereka menemukan peluang kerja berikutnya.
Selain itu, Canva menawarkan hibah sebesar US$10.000 kepada karyawan yang ingin membangun usaha atau menjalankan proyek komunitas. Dana tersebut diberikan tanpa mengambil kepemilikan saham atau ekuitas dari bisnis yang mereka dirikan.
Di sisi lain, restrukturisasi juga akan mengubah pola kerja dan struktur operasional perusahaan. Sydney, Australia, akan menjadi basis utama bagi lebih banyak tim produk Canva.
Perusahaan juga berencana memperketat kebijakan kerja hibrida. Mulai tahun 2027, karyawan yang sebelumnya bekerja dengan sistem fleksibel diwajibkan masuk kantor selama dua hingga tiga hari setiap pekan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Canva menyederhanakan struktur organisasi dan mempercepat pengambilan keputusan melalui pembentukan tim-tim yang lebih kecil.
Namun, keputusan memangkas sekitar 22% tenaga kerja ini turut menuai kritik di media sosial. Sejumlah pengguna mempertanyakan langkah perusahaan yang ingin kembali menerapkan budaya kerja layaknya perusahaan rintisan kecil setelah berkembang selama 13 tahun dengan dukungan ribuan karyawan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Istihanah