Kredit Foto: PLN EPI
Sektor bioenergi nasional menyimpan potensi raksasa berupa 60,6 juta ton biomassa per tahun yang belum tersentuh. Peluang jumbo ini dinilai menjadi ladang bisnis baru bagi generasi muda untuk menggarap kewirausahaan hijau sekaligus mempercepat transisi energi bersih.
Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir, memaparkan pemanfaatan biomassa tidak lagi sekadar urusan mengganti batu bara di pembangkit listrik, melainkan ruang kreasi industri pengolahan dari hulu ke hilir.
"Bioenergi bukan sekadar tentang menggantikan bahan bakar fosil, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem bisnis baru yang berkelanjutan," ujar Hokkop dalam forum Young Entrepreneur Days (YED) UI 2026 di Depok, Rabu (4/11/2026).
Secara pemetaan, potensi biomassa nasional mencapai 283,2 juta ton per tahun dengan ketersediaan teknis sebesar 83,4 juta ton. Sumber limbahnya melimpah, mulai dari sawit, pertanian, kayu, hingga sampah organik kota yang bisa disulap menjadi biochar, syngas, biohidrogen, hingga biofuel.
Jika pemanfaatan biomassa digenjot hingga 20 juta ton per tahun, sektor ini diproyeksikan mampu menyerap 150 ribu tenaga kerja hijau dan memangkas emisi karbon hingga 12 juta ton CO2e.
“Potensi ini membuka ruang yang sangat luas bagi tumbuhnya inovasi dan kewirausahaan. Biomassa dapat dikembangkan menjadi berbagai produk,” kata Hokkop.
Baca Juga: PLN EPI Amankan LNG Masela 2,5 Juta Ton per Tahun Selama 18 Tahun
Baca Juga: PLN EPI Alirkan Gas Natuna ke Batam, Pasokan Capai 15 MMSCFD
Untuk menampung pasokan tersebut, PLN EPI tengah menyiapkan skema rantai pasok terintegrasi lewat fasilitas hub dan sub-hub yang melibatkan petani, koperasi, hingga swasta. Terlebih, hingga Oktober 2026, program pembauran biomassa (cofiring) PLN Group sudah berjalan di 52 PLTU dengan konsumsi mencapai 1,84 juta ton biomassa.
"Kami ingin generasi muda melihat sektor energi sebagai ruang inovasi dan kewirausahaan. Ada banyak peluang yang bisa dikembangkan," pungkas Hokkop.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra