Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Laba Bersih AADI Naik 16% Per Kuartal III-2026, Tembus Rp13,76 T

Laba Bersih AADI Naik 16% Per Kuartal III-2026, Tembus Rp13,76 T Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) membukukan laba bersih sebesar US$760,63 juta atau setara Rp13,76 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 16,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$654,87 juta atau sekitar Rp11,85 triliun.

Kenaikan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 9,7% menjadi US$3,96 miliar atau sekitar Rp71,64 triliun, dari sebelumnya US$3,61 miliar atau Rp65,30 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 September 2026, peningkatan pendapatan terutama berasal dari penjualan batu bara yang mencapai US$3,72 miliar atau sekitar Rp67,37 triliun, naik dari US$3,45 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan penjualan batu bara terutama terlihat pada pasar domestik. Penjualan kepada pihak ketiga di dalam negeri mencapai US$679,22 juta atau sekitar Rp12,29 triliun, meningkat 27,9% dibandingkan US$530,92 juta atau Rp9,61 triliun.

Penjualan domestik kepada pihak berelasi juga meningkat menjadi US$229,62 juta atau sekitar Rp4,15 triliun, dari US$133,14 juta atau Rp2,41 triliun.

Sementara itu, penjualan batu bara ekspor kepada pihak ketiga tercatat US$2,81 miliar atau sekitar Rp50,83 triliun, naik tipis dibandingkan US$2,78 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Penjualan ekspor kepada pihak berelasi mencapai US$6,02 juta, dibandingkan US$3,82 juta pada periode sebelumnya.

Selain penjualan batu bara, AADI mulai mencatatkan pendapatan dari penyewaan aset ketenagalistrikan dan jasa penunjangnya sebesar US$87,80 juta atau sekitar Rp1,59 triliun. Pendapatan tersebut terdiri atas penyewaan aset sebesar US$77,44 juta dan jasa operasi serta pemeliharaan aset sebesar US$10,36 juta.

Dari sisi biaya, kenaikan pendapatan tersebut diikuti peningkatan beban pokok pendapatan yang lebih rendah, yakni 3,4% menjadi US$2,76 miliar atau sekitar Rp49,89 triliun dari US$2,67 miliar atau Rp48,24 triliun.

Berdasarkan Catatan 28, biaya pertambangan menjadi komponen terbesar dalam beban pokok pendapatan. Nilainya meningkat menjadi US$1,37 miliar atau sekitar Rp24,72 triliun, dibandingkan US$1,18 miliar atau Rp21,31 triliun pada periode sebelumnya.

Sebaliknya, biaya pembelian batu bara turun menjadi US$233,06 juta atau sekitar Rp4,22 triliun dari US$316,64 juta atau Rp5,73 triliun. Biaya royalti kepada pemerintah juga turun menjadi US$541,52 juta atau sekitar Rp9,80 triliun dari US$550,20 juta atau Rp9,96 triliun.

Kombinasi kenaikan pendapatan dan perubahan komposisi biaya tersebut diikuti peningkatan laba bruto AADI sebesar 27,4% menjadi US$1,20 miliar atau sekitar Rp21,75 triliun, dari US$943,26 juta atau Rp17,07 triliun.

Selain itu, beban usaha perusahaan tercatat US$181,25 juta atau sekitar Rp3,28 triliun, meningkat dari US$171,81 juta atau Rp3,11 triliun. Namun, beban umum dan administrasi justru turun menjadi US$114,45 juta dari US$120,51 juta.

Dalam rincian beban usaha, komisi penjualan meningkat menjadi US$66,69 juta dari US$51,19 juta. Sementara itu, beban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk bagian pemerintah pusat dan daerah naik menjadi US$54,96 juta dari US$35,88 juta.

Di luar kegiatan operasional, pendapatan lain-lain neto AADI meningkat menjadi US$46,63 juta atau sekitar Rp843,60 miliar, dibandingkan US$39,11 juta atau Rp707,20 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Komponen pendapatan lain-lain tersebut antara lain berasal dari keuntungan pelepasan investasi pada ventura bersama sebesar US$21,49 juta atau sekitar Rp388,79 miliar. Perusahaan juga mencatat pendapatan dividen dari investasi pada ventura bersama sebesar US$12,84 juta atau sekitar Rp232,26 miliar, yang tidak tercatat pada periode pembanding.

Pada periode yang sama, AADI mencatat kerugian selisih kurs neto sebesar US$1,35 juta, berbalik dari keuntungan US$10,70 juta pada sembilan bulan pertama 2025.

Dengan perubahan pada pendapatan, beban pokok pendapatan, beban usaha, dan pendapatan lain-lain tersebut, laba usaha AADI mencapai US$1,07 miliar atau sekitar Rp19,31 triliun. Nilai ini meningkat 31,7% dibandingkan US$810,55 juta atau Rp14,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Terbongkar Modus Licik Pengusaha 'Sedot' Laba dari Indonesia untuk Dilarikan ke Singapura

Baca Juga: LPKR Catat Pendapatan Rp5,37 Triliun dan Laba Bersih Rp1,24 Triliun pada 9M26

Adapun laba sebelum pajak tercatat US$1,06 miliar atau sekitar Rp19,20 triliun, meningkat 30,6% dari US$812,56 juta atau Rp14,70 triliun.

Sementara itu, beban pajak penghasilan mencapai US$300,30 juta atau sekitar Rp5,43 triliun, naik 90,4% dibandingkan US$157,69 juta atau Rp2,85 triliun. Setelah memperhitungkan beban pajak tersebut, AADI membukukan laba periode berjalan sebesar US$760,63 juta atau Rp13,76 triliun.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra