Kredit Foto: PLN
Malam tidak lagi menjadi batas bagi aktivitas masyarakat di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Jika dahulu warga harus membatasi berbagai kegiatan setelah matahari terbenam, kini cahaya lampu perlahan mengubah suasana kehidupan mereka. Rumah-rumah yang sebelumnya hanya mengandalkan lampu minyak atau penerangan seadanya mulai menikmati terang dari aliran listrik.
Bagi masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), kehadiran listrik membawa perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar penerangan. Listrik membuka kesempatan baru untuk belajar, bekerja, memperoleh informasi, hingga meningkatkan produktivitas keluarga.
Perubahan itu turut dirasakan Penina Mada, seorang ibu dengan tiga orang anak yang tinggal di Kabupaten Nabire. Senyum yang menghiasi wajahnya bukan semata-mata karena rumahnya kini terang saat malam tiba. Lebih dari itu, kehadiran listrik menghadirkan harapan baru bagi keluarganya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Sebelum menikmati akses listrik, keterbatasan penerangan menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Ketika malam datang, berbagai kegiatan rumah tangga harus menyesuaikan dengan kondisi gelap. Anak-anak pun memiliki keterbatasan waktu untuk membaca buku maupun menyelesaikan pekerjaan sekolah.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Cahaya lampu memungkinkan keluarga Penina menjalankan aktivitas dengan lebih leluasa. Dua anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) juga memiliki kesempatan lebih panjang untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah setelah pulang dari kegiatan belajar.
"Tentu kami senang sekali. Sekarang rumah sudah terang, anak-anak juga bisa belajar pada malam hari tanpa harus khawatir kekurangan penerangan. Kami merasa kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah," ujar Penina.
Pengalaman Penina menjadi gambaran nyata bagaimana akses listrik dapat mengubah kehidupan masyarakat di wilayah pelosok. Di Tanah Papua, upaya menghadirkan terang hingga ke permukiman warga terus dilakukan agar semakin banyak keluarga memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sepanjang 2026, PT PLN (Persero) berhasil melistriki sekitar 128 desa yang tersebar di Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya.
Upaya pemerataan tersebut akan terus dilanjutkan melalui program elektrifikasi 199 desa di enam provinsi di Tanah Papua. Program ini ditargetkan rampung secara bertahap hingga 2027 sebagai bagian dari komitmen memperluas akses energi bagi masyarakat di berbagai pelosok Indonesia.
Untuk mendukung program tersebut, PLN telah membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 742,58 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 286,71 kms, serta gardu distribusi dengan total kapasitas 7.450 kilovolt ampere (kVA) sepanjang 2026.
Di tengah upaya pemerataan akses listrik yang terus diperluas hingga wilayah timur Indonesia, perubahan serupa juga dirasakan masyarakat di berbagai daerah lain. Salah satunya di Desa Patialo, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara
Di desa yang berada jauh dari pusat aktivitas kecamatan ini, kehadiran listrik PLN menjadi perubahan besar setelah masyarakat bertahun-tahun bergantung pada penerangan sederhana dan pasokan energi yang tidak stabil.
Kini terdapat 108 Kepala Keluarga (KK) di Desa Patialo yang sudah teraliri listrik. Melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang digagas Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PLN, masyarakat akhirnya dapat menikmati akses listrik PLN yang lebih andal.
Sebelum listrik PLN masuk, kehidupan masyarakat Patialo masih diwarnai keterbatasan energi. Desa yang berjarak sekitar 7 kilometer dari jalan utama Kecamatan Kotanopan itu selama bertahun-tahun mengandalkan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah dan jaringan listrik swadaya dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).
Namun, pasokan listrik dari PLTMH kerap tidak stabil. Kondisi tersebut membuat berbagai aktivitas warga, termasuk kegiatan pendidikan, harus menyesuaikan dengan ketersediaan listrik.
Keterbatasan itu menjadi pengalaman yang tidak mudah bagi Asmaul Husna, salah seorang pemudi Desa Patialo yang tengah mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Di tengah cita-citanya menempuh pendidikan tinggi, Husna harus menghadapi persoalan yang cukup menghambat proses belajarnya, yakni keterbatasan listrik dan akses internet yang tidak selalu tersedia.
Ia mengingat bagaimana dahulu kegiatan belajar membaca dan berhitung dilakukan dengan penerangan seadanya. Ketika jaringan listrik swadaya mulai tersedia, kesempatan menggunakan internet memang terbuka. Namun, koneksi yang tidak stabil kembali menjadi kendala, terutama ketika ia harus mengikuti pembelajaran daring melalui aplikasi Zoom.
"Dulu, kami belajar membaca dan berhitung menggunakan lampu teplok. Setelah ada listrik dari kincir air (PLTMH), kami mulai bisa memakai wifi, tapi jaringannya sering terputus-putus, apalagi saat saya harus belajar lewat Zoom," tutur Husna.
Kini, dengan pasokan listrik PLN yang lebih andal, harapan untuk mengakses pendidikan yang lebih luas semakin terbuka. Anak-anak dan generasi muda Patialo memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar, memanfaatkan teknologi, serta mengejar cita-cita tanpa terlalu dibayangi keterbatasan penerangan.
Perubahan tidak hanya dirasakan dalam bidang pendidikan. Kehadiran listrik juga membawa suasana baru bagi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Baca Juga: PLN Pastikan Keandalan Pasokan Listrik PLTGU Tambak Lorok 1.697 MW
Nurlina Lubis, seorang guru ngaji di Desa Patialo, masih mengingat masa ketika kegiatan mengaji anak-anak kerap terhenti hanya karena lampu teplok kehabisan minyak atau penerangan tidak lagi tersedia.
“Dulu ngaji di sini pakai lampu teplok. Kalau mati lampu atau minyak tanah habis, anak-anak jadi tidak bisa mengaji lagi. Mereka sedih,” ujar Nurlina.
Bagi Nurlina, listrik yang kini tersedia sepanjang hari membawa perubahan besar. Kegiatan belajar mengaji dapat berlangsung dengan lebih nyaman tanpa harus terus bergantung pada persediaan minyak tanah maupun kondisi penerangan yang terbatas.
Dampak kehadiran listrik juga diharapkan menjangkau aktivitas ekonomi masyarakat. M. Jamil Lubis, seorang pekebun kayu manis setempat, merasakan bahwa masuknya jaringan listrik PLN menjadi bukti bahwa masyarakat di pelosok desa juga berhak mendapatkan fasilitas dasar yang setara dengan wilayah lain di Indonesia.
"Sebagai warga Desa Patialo, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah membantu sehingga listrik PLN bisa masuk ke desa kami," ujar Jamil.
Ia berharap, kehadiran listrik dapat menjadi awal dari semakin terbukanya peluang ekonomi masyarakat, termasuk dalam mendukung aktivitas perkebunan dan usaha warga.

Memperluas Terang, Menghadirkan Kesempatan
Kisah masyarakat di Nabire dan Desa Patialo memperlihatkan bahwa pemerataan akses listrik membutuhkan upaya berkelanjutan, terutama di wilayah dengan kondisi geografis dan aksesibilitas yang menantang. Setiap daerah memiliki karakteristik tersendiri sehingga pembangunan infrastruktur kelistrikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan.
Direktur Utama PLN, Suroso Isnandar, menyampaikan bahwa perluasan akses listrik di khususnya di Papua membutuhkan pendekatan pembangunan yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan aksesibilitas setiap wilayah. Tantangan medan, keterbatasan infrastruktur pendukung, serta jarak antarpemukiman menjadi pertimbangan dalam menentukan pola pembangunan dan penyediaan listrik.
"Perluasan akses listrik di Papua tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam. PLN menyesuaikan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dengan kondisi masing-masing wilayah, termasuk melalui pengembangan jaringan distribusi maupun pemanfaatan potensi energi setempat. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk yang berada di wilayah dengan aksesibilitas terbatas," ujar Suroso dalam keterangannya.
Sejalan dengan hal tersebut, General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menambahkan bahwa tantangan geografis dan aksesibilitas menjadi salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan program Listrik Desa (Lisdes).
Untuk itu, PLN terus mengoptimalkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan agar pembangunan infrastruktur kelistrikan dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Pencapaian elektrifikasi 128 desa hingga 2026 merupakan hasil dari pekerjaan pembangunan infrastruktur kelistrikan yang dilakukan secara kolaboratif. Kami terus memastikan pembangunan jaringan distribusi dan fasilitas pendukung, mulai dari JTM, JTR, hingga gardu distribusi, dapat diselesaikan sesuai kebutuhan masing-masing desa. Infrastruktur ini menjadi fondasi untuk menghadirkan pasokan listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari,” ungkap Roberth.
Upaya memperluas akses listrik hingga ke pelosok negeri tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk mewujudkan pemerataan energi melalui program Listrik Desa (Lisdes) periode 2025–2029. Program ini menargetkan elektrifikasi 5.758 desa yang belum terjangkau jaringan listrik PLN serta penyambungan listrik bagi sekitar 1,2 juta rumah tangga.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas infrastruktur kelistrikan perdesaan sekaligus mendukung arah kebijakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, mengatakan program Listrik Desa merupakan bentuk kehadiran negara untuk memastikan masyarakat di wilayah pelosok memperoleh akses energi yang layak. Pelaksanaannya diprioritaskan bagi desa-desa yang masih menghadapi keterbatasan akses listrik, tantangan geografis, serta memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.
Menurutnya, ketersediaan listrik tidak hanya berkaitan dengan penerangan, tetapi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Akses energi yang memadai dapat membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak untuk belajar, mendorong produktivitas ekonomi masyarakat, hingga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Pemerintah juga menargetkan rasio elektrifikasi nasional meningkat dari sekitar 98% menjadi 100% pada 2029. Dengan demikian, tidak ada lagi wilayah di Indonesia yang tertinggal dalam memperoleh akses listrik.
Baca Juga: PLN Sebut Kebutuhan Batu Bara 2027 Meningkat, Capai 174 Juta Ton
Baca Juga: Konsumsi Listrik Jawa Barat Tumbuh 6,28 Persen, Sinyal Positif Penguatan Aktivitas Ekonomi
"Target tersebut merupakan wujud kehadiran negara agar masyarakat pelosok menikmati layanan listrik yang andal dan berkelanjutan. Akses listrik bukan sekadar terang. Ini bisa membuka kesempatan belajar, produktivitas ekonomi, dan layanan kesehatan yang lebih baik," kata Yuliot.
Target pemerataan elektrifikasi tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai upaya konkret di lapangan, salah satunya dengan memperluas jangkauan layanan kelistrikan ke desa-desa yang selama ini belum menikmati akses listrik. Melalui program Listrik Desa, PLN terus mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan, termasuk di wilayah pelosok Tanah Papua.
Kehadiran listrik diharapkan tidak hanya menerangi rumah-rumah warga, tetapi juga mendukung aktivitas masyarakat, memperluas kesempatan belajar, meningkatkan pelayanan kesehatan, serta membuka peluang tumbuhnya kegiatan ekonomi di desa-desa yang sebelumnya belum menikmati akses listrik.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra