Portal Berita Ekonomi Senin, 27 Februari 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • BP Batam - BP Batam pastikan akan bongkar peternakan babi di kawasan hutan resapan air Dam Duriangkang.
  • Bom - Kapolda Jabar Anton Charliyan mengatakan tidak ada korban akibat ledakan bom panci di Taman Pandawa.
  • LRT - PT Kereta Api Indonesia mengakui tugas sebagai Investor LRT Jabodebek cukup berat
  • Jakarta - Pemprov DKI akan melarang pemasangan Baliho di pinggir jalan dan menggantinya dengan light emitting diode (LED) di gedung-gedung
  • Pilkada - Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan hanya akan menangani sengketa hasil perhitungan suara pilkada serentak 2017
  • Bogor - Upacara Kenegaraan Penyambutan Raja Salman akan dilaksanakan di Istana Bogor
  • Bandung - Terduga tersangka teroris di Bandung bernama Yayat Cahdiyat resedivis kasus teroris
  • KPK - KPK meminta kewenangan untuk dapat mengusut sektor swasta
  • Pekalongan - Harga beras dan daging di Pekalongan mulai turun.
  • Militer - Usai kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Australia, kerjasama Militer antara Indonesia dan Australia akan kembali diaktifkan
  • Cabai - Harga cabai di Bangkalan, Jatim, naik hingga Rp160.000/kg.

BKPM Sebut Dampak Riset JPMorgan Hanya Jangka Pendek

Foto Berita BKPM Sebut Dampak Riset JPMorgan Hanya Jangka Pendek
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menilai riset perusahaan perbankan asal Amerika Serikat JPMorgan Chase Bank NA memberikan dampak jangka pendek bagi Indonesia.

Riset JPMorgan bertajuk dinilai mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional lantaran memangkas dua level rekomendasi surat utang Indonesia dari "overweight" menjadi "underweight". "Riset JPMorgan hanya 'downgrade' jangka pendek. Secara struktural jangka panjang, saya lihat masih positif," kata Tom, sapaan Thomas, dalam diskusi bersama wartawan di Jakarta, Rabu (3/1/2017).

Tom menilai penilaian tersebut sebagai suatu hal yang perlu dihargai. Pasalnya, penilaian bank investasi itu dilakukan sesuai independensi mereka.

"Sebagai mantan investment banker, di dalam satu lembaga itu ada unit yang independen satu dengan yang lainnya. Yang mereka jual ke investor itu independensi. Jadi memang kita juga harus menghargai independensi departemen riset di masing-masing bank investasi itu," katanya.

Menurut Tom, prospek Indonesia ke depan masih cukup baik. Terlebih, sejumlah penilaian dari beberapa badan riset juga memuji posisi dan memperkirakan tren positif yang dicapai Indonesia bisa bertahan.

Ia juga meyakinkan, kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia semakin meningkat sehingga momentum tersebut tidak boleh dilewatkan. "Jadi bagaimana kita jangan sampai kehilangan momentum. Kenapa sentimen naik? Ini karena upaya reformasi perekonomian yang lebih praktis. Ini harus berkelanjutan dan dijaga," tuturnya.

Tom menuturkan, yang penting untuk dilakukan saat ini adalah terus menjaga fundamental ekonomi nasional. Jika neraca perdagangan, modal dan transaksi berjalan positif, ditambah pertumbuhan ekonomi yang stabil dan cenderung naik, maka dengan sendirinya peringkat Indonesia akan naik.

Ia juga mengingatkan agar tidak mudah terlena dengan capaian-capaian yang telah diraih. "Terus fokus pada fundamental ekonomi. Saya yakin penilaian 'rating agency' (lembaga pemeringkat) termasuk 'investment bank' akan mencerminkan dan meningkatkan peringkat kita," pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan memutus hubungan kemitraan dengan JPMorgan mulai 1 Januari 2017 dalam hal kemitraan sebagai bank persepsi. Melalui pemutusan kontrak kerja sama sebagai bank persepsi, maka JPMorgan Chase Bank diminta untuk tidak menerima setoran penerimaan negara di seluruh cabangnya terhitung 1 Januari 2017.

Kemenkeu juga meminta perusahaan perbankan tersebut menyelesaikan segala perhitungan atas hak dan kewajiban terkait pengakhiran penyelenggaraan layanan JPMorgan Chase Bank sebagai bank persepsi. (Ant)

Tag: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), JPMorgan Chase Bank NA, Thomas Trikasih Lembong, Kementerian Keuangan (Kemenkeu)

Penulis: ***

Editor: Vicky Fadil

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5385.906 13.158 539
2 Agriculture 1841.223 10.982 21
3 Mining 1419.623 -11.021 43
4 Basic Industry and Chemicals 565.553 5.187 66
5 Miscellanous Industry 1365.621 14.073 42
6 Consumer Goods 2374.993 14.543 39
7 Cons., Property & Real Estate 517.048 -2.460 61
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1062.681 -2.767 56
9 Finance 829.581 -0.573 89
10 Trade & Service 871.468 6.466 122
No Code Prev Close Change %
1 VRNA 95 117 22 23.16
2 DGIK 129 153 24 18.60
3 JAWA 133 149 16 12.03
4 MGNA 102 114 12 11.76
5 IKBI 350 386 36 10.29
6 ARII 338 370 32 9.47
7 KRAH 2,680 2,900 220 8.21
8 KBLI 318 344 26 8.18
9 SRIL 280 302 22 7.86
10 ASJT 580 625 45 7.76
No Code Prev Close Change %
1 TRAM 190 125 -65 -34.21
2 ICON 494 376 -118 -23.89
3 KOIN 320 250 -70 -21.88
4 CMPP 113 100 -13 -11.50
5 BIPP 97 89 -8 -8.25
6 BUMI 360 332 -28 -7.78
7 FREN 54 50 -4 -7.41
8 MAMI 73 68 -5 -6.85
9 CTBN 5,200 4,850 -350 -6.73
10 BCIP 182 170 -12 -6.59
No Code Prev Close Change %
1 TRAM 190 125 -65 -34.21
2 BUMI 360 332 -28 -7.78
3 BABP 67 67 0 0.00
4 DGIK 129 153 24 18.60
5 ELTY 52 50 -2 -3.85
6 BRPT 2,310 2,250 -60 -2.60
7 MCOR 328 336 8 2.44
8 SRIL 280 302 22 7.86
9 SMDM 87 84 -3 -3.45
10 AGRO 975 980 5 0.51