Toyota Mengeluh Perang Kamboja-Thailand Bikin Produksi Terhambat dan Biaya Ongkirnya Membengkak
Kredit Foto: Toyota Indonesia
Sektor otomotif Thailand kondisinya masih sama dengan Indonesia, saat ini masih diliputi ketidakpastian dan kelesuan penjualan karena tidak bergerak jauh dari pencapaian akhir tahun lalu.
Hal itu ditegaskan oleh Presiden Toyota Motor Thailand Noriaki Yamashita yang berharap pemerintah baru Thailand pada tahun ini dapat memberi insentif yang sangat dibutuhkan bagi sektor otomotif Thailand karena terus bergulat dengan masalah konsumsi masyarakat yang lesu dan dampak dari sengketa perbatasan.
Untuk diketahui, data dari Bangkok Post menyebut meski penjualan mobil Thailand naik 5,2% year-on-year menjadi 546.045 unit dalam 11 bulan pertama tahun 2025, namun para pemimpin industri bersikeras bahwa dukungan pemerintah tetap penting.
Toyota memperkirakan total penjualan domestik sekitar 630.000 kendaraan pada tahun 2026, naik dari perkiraan 600.000 tahun lalu. Namun, ia memperingatkan bahwa sentimen konsumen tetap rapuh.
"Orang-orang ragu untuk membeli mobil baru jika mereka kurang percaya pada perekonomian," kata Yamashita.
Toyota sedang memperluas jejaknya di bawah kebijakan Thailand Plus One, yang memposisikan negara tersebut sebagai pusat investasi sekaligus mengintegrasikan negara-negara tetangga ke dalam rantai pasokan.
Namun, pengiriman komponen dari Kamboja terganggu oleh ketegangan perbatasan.
"Kami harus mengalihkan pengiriman suku cadang melalui jalur laut, yang meningkatkan biaya dan menunda pengiriman ke pabrik perakitan kami di Thailand," kata Yamashita.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: